Iklan

Notification

×

Iklan

Iklan

Ke Mana Burung-Burung Itu Akan Pulang?

Selasa | September 22, 2026 WIB Last Updated 2026-09-22T12:06:13Z
iklan
Oleh: Raa

DULU, sebelum sumur kami dimasuki debu, Abah sering pergi ke kebun.

Ia menanam cengkeh, pala, membuat kopra, dan sesekali mencari kayu bakar di hutan. Kebun Abah sangat luas dan tersebar di beberapa tempat. Di dekat gunung, ada sekitar 300 pohon cengkeh. Di dekat sungai, tumbuh 200 pohon pala yang setiap musim berbuah lebat. Di belakang masjid ada pohon-pohon sagu. Sementara di ujung kampung, Abah memiliki kebun kelapa sekitar 200 pohon.

Abah selalu berpindah-pindah tempat mengikuti musim panen.

Untuk sampai ke kebun cengkeh, Abah harus berjalan kaki selama dua jam. Sesekali ia beristirahat di bawah pohon sambil meneguk air yang dibawanya dari rumah ketika dahaga datang di tengah perjalanan.

Di kebun cengkeh, Abah tidak pernah merasa kesepian.

Sebab, ia ditemani kicau burung yang berterbangan di antara pepohonan. Mereka hinggap dari satu pohon ke pohon lainnya. Abah tidak pernah mengusik keberadaan mereka. Baginya, burung-burung itu juga makhluk hidup, sama seperti dirinya.

Karena itu, Abah tidak keberatan jika burung-burung membuat rumah di pohon-pohon di kebunnya.

Kadang-kadang, ketika hendak pergi ke hutan, Abah bertemu kuskus. Ia sering melihat hewan itu melompat dari satu cabang ke cabang lain di atas pohon beringin besar, menggunakan ekornya untuk berpindah.

Hewan-hewan itu tidak berlari ketika melihat Abah.

Seolah-olah mereka tahu bahwa Abah tidak akan memburu mereka.

Abah adalah orang baik.

Ia menjaga hutan dan membiarkan mereka hidup di sana.

Setiap musim panen cengkeh tiba, Abah meminta bantuan lima sampai sepuluh orang laki-laki di kampung untuk memetik buah cengkeh. Mereka bekerja bersama, lalu pulang membawa banyak karung berisi cengkeh.

Aromanya harum semerbak.

Satu kampung bisa tahu kalau Abah sedang panen karena angin membawa bau cengkeh sampai ke rumah-rumah warga.

Di kampung kecil kami yang kaya alam itu, makanan tidak perlu dicari jauh-jauh.

Jika ingin makan sagu, Abah dan Emak cukup pergi ke belakang masjid. Mereka akan bahalo sagu.

Sagu bukan sekadar makanan yang tersaji di atas meja makan kami. Sagu adalah makanan pokok masyarakat kampung.

Ketika ada hajatan, perkawinan, atau acara adat, para laki-laki biasanya berbondong-bondong ke hutan. Mereka menebang pohon sagu, kemudian menumbuk empulur batangnya menggunakan alat yang kami sebut ngongalo. Serbuknya diperas hingga menghasilkan saripati sagu yang kemudian dipersiapkan untuk kebutuhan acara.

Pulang dari kebun, mereka tidak hanya membawa sagu.

Mereka juga membawa sabeta.

Sabeta adalah ulat yang biasa ditemukan di dalam batang pohon sagu yang telah mati atau membusuk, termasuk dalam proses bahalo sagu. Rasanya lezat, apalagi dimakan bersama sagu panas. Bagi kami, sabeta juga menjadi lauk dan sumber protein.

Begitulah cara kampung kami hidup.

Alam memberi makan kami.

Ketika kelapa sudah matang, Abah pergi ke kebun di ujung kampung untuk membuat kopra.

Suatu hari Abah berkata kepada saya,

“Dari hasil kopra inilah SPP kamu terbayar, Nak.”

Abah selalu panen dalam jumlah banyak.

Cengkeh, kelapa, kopra, dan pala menjadi sumber kehidupan kami.

Dari kebun itulah biaya sekolah kami datang.

Dari tanah itulah kehidupan keluarga kami bertahan.

Dulu, sebelum terdengar deru mesin excavator, hidup kami jauh dari keramaian.

Tenang.

Damai.

Tidak banyak perkelahian antarsesama warga. Kami makan dari hasil kebun sendiri. Kadang-kadang Abah pergi mencari ikan di laut, tidak jauh dari pantai.

Abah tidak perlu berlayar jauh.

Di dekat pantai saja, ia bisa membawa pulang banyak ikan segar untuk dimasak Emak di dapur.

Kami hidup dari apa yang diberikan tanah, hutan, dan laut.

Hari ini, kebun Abah sudah tidak ada.

Kebun cengkeh di dekat gunung telah berubah menjadi jalan hauling. Tanahnya diratakan oleh excavator.

Tidak ada lagi bau cengkeh yang harum melintasi pintu rumah orang-orang di kampung.

Pohon sagu di belakang masjid sudah berubah menjadi bangunan kos-kosan. Tanahnya telah dibeli oleh orang-orang pendatang.

Kebun kelapa di ujung kampung juga sudah tumbang.

Abah mengubahnya menjadi kos-kosan dua puluh pintu.

Sekarang, sumber biaya pendidikan adik-adikku bukan lagi dari kelapa.

Melainkan dari uang sewa kamar kos.

Tidak ada lagi perahu yang terparkir di bibir pantai untuk membawa Abah mencari ikan di dekat tepian.

Pantainya telah tercemar.

Jika ingin mendapatkan ikan, Abah harus pergi lebih jauh.

Sementara Abah belum pernah berlayar jauh untuk mencari ikan.

Hidup kami berubah sejak Abah menandatangani surat jual beli itu.

Abah menjual tanahnya kepada sebuah perusahaan besar.

Sejak saat itu, ia tidak lagi memiliki hak atas kebun yang telah dijaganya bertahun-tahun.

Abah bukan lagi petani.

Ia sekarang seorang bapak kos.

Tetapi di balik dua puluh pintu kamar kos itu, ada sesuatu yang hilang.

Abah kehilangan cengkeh yang dahulu ditanamnya sendiri.

Ia kehilangan pohon-pohon yang pernah menaungi tubuhnya ketika lelah.

Ia kehilangan suara burung.

Ia kehilangan kuskus yang dulu melompat dari satu dahan ke dahan lainnya.

Ia kehilangan hutan yang dahulu menjadi bagian dari hidupnya.

Sekarang, hanya ada Abah yang duduk di teras rumah.

Ia memandangi truk-truk raksasa yang berlalu-lalang membawa debu.

Dalam penyesalan, Abah seperti mengutuk dirinya sendiri.

Tanpa suara, batinnya mengamuk.

Sebab tanda tangannya di atas surat itu bukan hanya mengubah hidup keluarganya.

Tanda tangan itu ikut mengubah rumah bagi makhluk-makhluk lain.

Burung kehilangan tempat bersarang.

Kuskus kehilangan pepohonan tempat mereka bergelantungan.

Hewan-hewan lain kehilangan rumah.

Pohon-pohon yang dahulu tumbuh menjulang tinggi tumbang satu demi satu.

Abah yang dahulu menjaga rumah mereka, kini merasa menjadi orang yang ikut membuat mereka kehilangan rumah.

Dan setiap kali duduk di teras, Abah merindukan suara burung-burung itu.

Ia merindukan kuskus yang dahulu sering dilihatnya di atas pohon.

Mungkin mereka telah berpindah.

Mungkin mereka sedang mencari tempat lain yang lebih aman.

Mungkin mereka masih hidup di suatu tempat.

Tetapi kemudian Abah terdiam.

Sebab ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikirannya:

“Kalau Abah masih bisa pulang ke rumah dan masih punya dua puluh pintu kos untuk tempat berteduh, burung-burung itu akan pulang ke mana?”(*)
×
Berita Terbaru Update