Iklan

Notification

×

Iklan

Iklan

Gubernur Sherly Buka Rakernas JKPI XII, Dorong Pelestarian Pusaka Berbasis Nilai dan Ekonomi

Sabtu | Agustus 29, 2026 WIB Last Updated 2026-08-29T13:25:22Z
iklan
TERNATE, DETIKMALUT.com – Pelestarian kota pusaka tidak cukup hanya menjaga bangunan bersejarah agar tetap berdiri. Nilai, cerita, dan filosofi yang terkandung di dalam warisan budaya juga harus terus diwariskan serta dihidupkan dalam kehidupan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, saat membuka secara resmi Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) XII Tahun 2026 di Gamalama Ballroom, Bela Hotel, Ternate, Jumat (28/8/2026).

Rakernas JKPI XII mempertemukan para kepala daerah dan delegasi kota-kota pusaka dari berbagai wilayah Indonesia. Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe, unsur Forkopimda Maluku Utara, Sekretaris Daerah Maluku Utara Samsuddin A. Kadir, Ketua Presidium JKPI sekaligus Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Hermawan, serta Wali Kota Ternate M. Tauhid Soleman yang juga merupakan Presidium JKPI.

Dalam sambutannya, Sherly menekankan pentingnya melihat pelestarian warisan budaya secara lebih luas. Menurutnya, keberhasilan menjaga pusaka tidak semata-mata diukur dari terawatnya bangunan atau situs bersejarah.

"Pertanyaannya, jika 100 tahun lagi benteng tersebut masih berdiri kokoh, tetapi anak cucu kita tidak tahu cerita dan maknanya, apakah kita bisa disebut berhasil? Sebuah pusaka atau budaya hanya akan terjaga jika ia menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan mampu menopang kesejahteraan masyarakat," ujar Sherly retoris.

Karena itu, Gubernur mendorong agar kekayaan budaya mampu beradaptasi dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa menghilangkan nilai sejarah serta keasliannya.

Transformasi tersebut, menurut Sherly, dapat dilakukan melalui pengembangan kuliner khas, pemberdayaan UMKM, hingga pemanfaatan platform ekonomi digital. Selain menjaga warisan budaya tetap relevan bagi generasi muda, langkah tersebut juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Sherly juga menilai keterbatasan anggaran daerah menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pelestarian pusaka. Oleh sebab itu, tanggung jawab menjaga warisan budaya tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan sektor swasta dan masyarakat.

"Semoga Rakernas JKPI ke-12 ini melahirkan keputusan strategis yang berdampak nyata. Saya berharap kota pusaka yang telah sukses membangun ekosistem ekonominya dapat membagikan ide dan mereplikasi gagasan tersebut kepada daerah lain," tambahnya.

Sementara itu, Ketua Presidium JKPI, Wawan Hermawan, menyebut organisasi tersebut sebagai wadah untuk saling belajar dan bertukar pengalaman dalam mengelola serta membangun kota-kota pusaka di Indonesia.

Menurutnya, setiap daerah memiliki karakteristik, pengalaman, dan persoalan yang berbeda, mulai dari pengelolaan kawasan bersejarah, revitalisasi pasar tradisional, pembangunan museum, hingga pelaksanaan berbagai festival budaya.

"Keberhasilan satu kota harus menjadi inspirasi, sementara ancaman yang dihadapi suatu daerah wajib menjadi pelajaran berharga bagi seluruh anggota," kata Wawan.

Selain persoalan pengelolaan dan pengembangan ekonomi, Wawan juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan terhadap berbagai ancaman yang dapat merusak warisan budaya. Kebakaran, gempa bumi, banjir, dampak perubahan iklim, pembangunan yang tidak terkendali, penelantaran, hingga vandalisme menjadi tantangan yang harus diantisipasi bersama.

Ia menegaskan perlunya setiap kota pusaka memperkuat sistem mitigasi dan kesiapsiagaan bencana untuk melindungi aset-aset bersejarah yang dimiliki.

"Setiap kota pusaka harus segera mematangkan sistem pengamanan kebakaran, dokumentasi digital, prosedur penyelamatan, ketersediaan SDM terlatih, hingga koordinasi lintas sektor antara Dinas Kebudayaan, BPBD, Pemadam Kebakaran, komunitas, dan pemilik bangunan," pungkasnya.

Melalui Rakernas JKPI XII, diharapkan lahir berbagai gagasan dan langkah strategis yang dapat memperkuat pelestarian kota pusaka di Indonesia. Bagi Maluku Utara, khususnya Ternate yang memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat peradaban rempah Nusantara, forum tersebut juga menjadi momentum untuk memastikan warisan sejarah dan budaya tidak hanya tetap terjaga, tetapi terus hidup, dikenal, dan memberikan manfaat bagi generasi masa kini maupun masa depan.(Id/Red)
×
Berita Terbaru Update