Iklan

Notification

×

Iklan

Iklan

Strategi Penguatan Literasi, Numerasi dan Penalaran untuk Meningkatkan Nilai TPA Siswa Maluku Utara

Selasa | Agustus 25, 2026 WIB Last Updated 2026-08-25T14:03:47Z
iklan
Oleh: Mahri Samsul, SKM., M.Kes

PENINGKATAN kualitas pendidikan merupakan bagian penting dalam membangun sumber daya manusia Maluku Utara. Tes Potensi Akademik (TPA) tidak hanya mengukur kemampuan menghafal materi, tetapi juga kemampuan membaca, memahami informasi, berhitung, berpikir logis, menganalisis, dan memecahkan masalah. Karena itu, peningkatan nilai TPA harus dilakukan secara berkelanjutan melalui pembelajaran di sekolah, dukungan keluarga, serta keterlibatan lembaga pendidikan nonformal seperti lembaga kursus dan bimbingan belajar.

Berdasarkan data Rapor Pendidikan yang menjadi bagian dari analisis RPJMD Provinsi Maluku Utara 2025–2029, kemampuan literasi dan numerasi masih menjadi tantangan. Pada tahun 2024, capaian literasi SMA berada pada angka 50,11, sedangkan numerasi 46,35. Pada SMK, literasi mencapai 53,60 dan numerasi 48,76. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan numerasi, literasi, dan kemampuan penalaran perlu menjadi salah satu prioritas pembangunan pendidikan di Maluku Utara.

Persoalan tersebut juga dipengaruhi oleh karakter Maluku Utara sebagai provinsi kepulauan. Akses terhadap guru, fasilitas pembelajaran, teknologi, dan sumber belajar belum sepenuhnya merata antara sekolah di pusat kota dengan sekolah di wilayah kepulauan, pesisir, dan daerah terpencil. Oleh sebab itu, peningkatan kemampuan akademik membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.

Pada jenjang SD, prioritas diarahkan pada penguatan kemampuan dasar membaca, memahami bacaan, berhitung, dan menyelesaikan masalah sederhana. Anak perlu dibiasakan membaca setiap hari dan mengembangkan kemampuan numerasi melalui persoalan kehidupan sehari-hari.

Pada jenjang SMP, kemampuan tersebut dikembangkan menjadi penalaran, logika, dan pemecahan masalah. Siswa perlu dibiasakan membaca tabel dan grafik, menemukan pola, membandingkan informasi, dan menarik kesimpulan.

Sedangkan pada jenjang SMA dan SMK, pembelajaran diarahkan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi, seperti memahami teks yang lebih kompleks, analisis data, statistik, logika, numerasi, dan pemecahan masalah. Khusus SMK, kemampuan akademik perlu dikaitkan dengan kompetensi keahlian dan kebutuhan dunia kerja.

Peran Lembaga Kursus dan Privat
Lembaga kursus, bimbingan belajar, dan guru privat dapat menjadi mitra strategis sekolah dan pemerintah daerah dalam meningkatkan kemampuan akademik peserta didik. Perannya bukan menggantikan pendidikan formal, tetapi memberikan penguatan, pendalaman, dan pendampingan sesuai kebutuhan masing-masing siswa.

Lembaga kursus dapat memberikan program persiapan TPA secara terstruktur, mulai dari tes diagnostik untuk mengetahui kemampuan awal siswa, pembelajaran sesuai kelemahan masing-masing, latihan soal secara bertahap, hingga simulasi tes. Dengan demikian, siswa tidak hanya berlatih menjawab soal, tetapi memahami pola soal, strategi berpikir, dan cara mengelola waktu saat mengikuti tes.

Lembaga privat juga dapat membantu siswa yang mengalami kesulitan tertentu, terutama dalam matematika, literasi, logika, dan penalaran. Sistem privat memungkinkan pembelajaran lebih personal karena materi dan metode dapat disesuaikan dengan kemampuan setiap siswa.

Di Maluku Utara, pemerintah dapat mendorong terbentuknya kemitraan antara sekolah, lembaga kursus/privat, dan perguruan tinggi. Lembaga kursus yang memenuhi standar dapat dilibatkan dalam program pengayaan siswa, pelatihan penalaran, simulasi TPA, dan pendampingan siswa di daerah yang membutuhkan.

Namun, program tersebut harus memperhatikan pemerataan akses. Kursus dan privat tidak boleh hanya dinikmati oleh siswa dari keluarga yang mampu atau siswa di perkotaan. Pemerintah daerah dapat membuat program subsidi, beasiswa, atau kerja sama dengan lembaga kursus untuk memberikan kursus gratis atau bersubsidi bagi siswa berprestasi dan siswa dari keluarga kurang mampu, termasuk siswa di wilayah kepulauan dan terpencil.

Dengan pendekatan tersebut, lembaga kursus dapat menjadi bagian dari ekosistem pendidikan daerah. Sekolah memberikan pendidikan utama, keluarga memberikan dukungan belajar di rumah, sedangkan lembaga kursus memberikan pengayaan dan pendampingan akademik.

Untuk Maluku Utara, pemerintah daerah dapat membangun program “Maluku Utara Cerdas Akademik” dengan mengintegrasikan sekolah, keluarga, lembaga kursus/privat, perguruan tinggi, dan dunia usaha. Program dimulai dengan pemetaan kemampuan siswa melalui asesmen diagnostik, dilanjutkan dengan pembelajaran dan pendampingan sesuai kebutuhan, kemudian dievaluasi secara berkala.

Keberhasilan program tidak hanya diukur dari siswa yang memperoleh nilai tertinggi, tetapi juga dari peningkatan kemampuan siswa dibandingkan kondisi awalnya, termasuk siswa di daerah terpencil dan sekolah dengan keterbatasan fasilitas.

Pada akhirnya, meningkatkan nilai TPA bukan sekadar mengejar angka ujian. Tujuan utamanya adalah membentuk generasi Maluku Utara yang mampu membaca dan memahami informasi, menggunakan angka dan data, berpikir kritis, bernalar, serta memecahkan masalah.

Dengan kolaborasi antara sekolah, keluarga, lembaga kursus dan privat, perguruan tinggi, serta pemerintah daerah, peningkatan TPA dapat dilakukan secara lebih sistematis, merata, dan berkelanjutan. Strategi tersebut diharapkan mampu memperkuat kualitas SDM Maluku Utara dan mempersiapkan generasi yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.(*)

×
Berita Terbaru Update