Oleh: Mahri Samsul, SKM., M.Kes Akademisi Universitas Bumi Hijrah Tidore
PENDIDIKAN di Maluku Utara tidak bisa dilepaskan dari realitas geografisnya sebagai wilayah kepulauan. Dari Pulau Halmahera hingga gugusan pulau kecil lainnya, akses terhadap pendidikan sejak dulu menghadapi berbagai keterbatasan. Dalam konteks ini, peran guru menjadi sangat sentral. Bahkan, sejak semangat pendidikan yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara, guru dipandang bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing kehidupan.
Pada masa lalu, tantangan utama guru di Maluku Utara adalah keterbatasan sarana dan akses. Banyak sekolah berada di daerah terpencil dengan fasilitas minim. Buku pelajaran terbatas, teknologi hampir tidak tersedia, dan transportasi antarwilayah sering menjadi kendala. Dalam situasi tersebut, guru menjadi satu-satunya sumber ilmu bagi siswa. Metode pembelajaran yang digunakan masih konvensional, seperti ceramah dan hafalan. Namun, di balik keterbatasan itu, hubungan antara guru dan siswa terjalin erat. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi teladan dan figur yang dihormati dalam masyarakat.
Memasuki era sekarang, lanskap pendidikan di Maluku Utara mulai berubah seiring perkembangan teknologi digital dan kehadiran kecerdasan buatan (AI). Akses informasi menjadi lebih luas, dan siswa memiliki peluang untuk belajar dari berbagai sumber di luar kelas. AI bahkan mampu membantu menjawab soal, menjelaskan materi, hingga menyusun tugas dalam waktu singkat. Perubahan ini membawa kemudahan yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.
Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru bagi guru. Jika dulu guru menghadapi kekurangan informasi, kini guru justru berhadapan dengan banjir informasi. Siswa tidak lagi bergantung sepenuhnya pada guru, sehingga peran guru bergeser dari pusat pengetahuan menjadi fasilitator dan pembimbing. Guru dituntut untuk mampu mengarahkan siswa agar tidak hanya menerima jawaban dari AI, tetapi juga memahami proses berpikir di baliknya.
Di Maluku Utara, tantangan ini menjadi lebih kompleks karena adanya kesenjangan digital. Tidak semua wilayah memiliki akses internet yang stabil atau perangkat teknologi yang memadai. Akibatnya, terjadi ketimpangan antara sekolah yang sudah mulai memanfaatkan teknologi dengan sekolah yang masih bergulat dengan keterbatasan dasar. Guru di daerah dengan fasilitas terbatas harus berjuang lebih keras untuk tetap menghadirkan pembelajaran yang relevan di tengah perkembangan zaman.
Selain itu, penggunaan AI juga menimbulkan persoalan etika. Banyak siswa yang cenderung mengandalkan teknologi untuk menyelesaikan tugas tanpa memahami materi. Hal ini berpotensi menurunkan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas. Dalam kondisi ini, guru memiliki tanggung jawab besar untuk menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan etika dalam penggunaan teknologi.
Meski demikian, AI bukanlah ancaman, melainkan peluang jika dimanfaatkan dengan bijak. Bagi guru di Maluku Utara, AI dapat menjadi alat bantu untuk menyusun materi pembelajaran, membuat soal, hingga memahami kebutuhan belajar siswa secara lebih personal. Dengan dukungan yang tepat, teknologi justru dapat membantu mengatasi sebagian keterbatasan yang selama ini menjadi tantangan.
Ke depan, pendidikan di Maluku Utara perlu mengarah pada keseimbangan antara teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan. Pemerataan infrastruktur digital menjadi kebutuhan mendesak, disertai dengan peningkatan kapasitas guru dalam memanfaatkan teknologi. Namun, yang tidak kalah penting adalah menjaga jati diri pendidikan itu sendiri bahwa pendidikan bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang pembentukan karakter.
Pada akhirnya, peran guru tetap tidak tergantikan. Dari masa lalu hingga masa kini, guru selalu menjadi garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Di tengah kemajuan AI, guru di Maluku Utara justru dituntut untuk semakin adaptif, kreatif, dan bijaksana. Karena sehebat apa pun teknologi, sentuhan manusia dalam pendidikan tetap menjadi fondasi utama dalam membangun generasi masa depan.(*)


