Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Jumat–Sabtu, 11–12 September 2026, bertempat di Ruang Seminar Lantai 3 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Khairun, menghadirkan Ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI), Prof. Dr. apt. Yandi Syukri, S.Si., M.Si., sebagai narasumber utama dalam pendampingan penyusunan kurikulum dan penguatan dokumen akademik dalam rangka persiapan pembukaan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker Universitas Khairun.
Workshop tersebut menjadi bagian penting dari strategi Universitas Khairun untuk menghadirkan program pendidikan profesi apoteker yang memenuhi standar nasional pendidikan tinggi serta mampu menjawab kebutuhan pelayanan kefarmasian modern, khususnya di wilayah Maluku Utara.
Dalam kegiatan tersebut, Prof. Dr. apt. Yandi Syukri menyampaikan bahwa pendidikan tinggi farmasi saat ini menghadapi perubahan besar akibat perkembangan teknologi, kebutuhan pelayanan kesehatan berbasis pasien, serta tuntutan dunia kerja yang semakin kompleks. Menurutnya, perguruan tinggi farmasi perlu melakukan transformasi kurikulum agar lulusan tidak hanya menguasai ilmu dasar kefarmasian, tetapi juga memiliki kemampuan analisis, pemecahan masalah, pemanfaatan teknologi digital, dan pengambilan keputusan profesional.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan Outcome-Based Education (OBE) menjadi paradigma penting dalam pengembangan kurikulum modern karena menempatkan capaian pembelajaran lulusan sebagai dasar utama. Kurikulum tidak lagi hanya berorientasi pada materi yang diberikan oleh dosen, tetapi berfokus pada kemampuan nyata yang harus dimiliki mahasiswa setelah menyelesaikan pendidikan.
Menurut Prof. Yandi, perkembangan bidang kefarmasian saat ini juga dipengaruhi oleh kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), big data, rekam medis elektronik, telepharmacy, pengobatan presisi (precision medicine), serta pendekatan pelayanan yang berpusat pada pasien (patient-centred care). Oleh karena itu, kompetensi lulusan farmasi perlu diarahkan agar mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut.
Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Khairun, Dr. Hasan Hamid, M.Si., menyampaikan bahwa Universitas Khairun memiliki komitmen kuat untuk menjadi perguruan tinggi pertama di Provinsi Maluku Utara yang menyelenggarakan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker. Menurutnya, keberadaan PSPPA menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketersediaan tenaga profesional kefarmasian sekaligus mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.
“Kehadiran Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker merupakan bagian dari komitmen Universitas Khairun dalam membangun pendidikan kesehatan yang berkualitas, relevan dengan kebutuhan masyarakat, dan memiliki daya saing nasional maupun internasional,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Pembelajaran Universitas Khairun, Dr. Chumidach Roini, S.Pd., M.Si., menekankan pentingnya penyusunan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) berbasis OBE. Menurutnya, CPL menjadi fondasi utama dalam memastikan setiap proses pembelajaran memiliki arah yang jelas serta mampu menghasilkan lulusan sesuai standar kompetensi yang diharapkan.
Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Khairun, Dr. dr. Andi Sitti Nur Afiah, Sp.PK., M.Kes., menyampaikan kesiapan FKIK Unkhair dalam melakukan penguatan mutu Program Studi S1 Farmasi sekaligus mempersiapkan pembukaan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker. Ia menjelaskan bahwa pengembangan kurikulum harus mampu menggabungkan keunggulan lokal Maluku Utara dengan perkembangan ilmu pengetahuan global.
Dalam pendampingan APTFI, pengembangan kurikulum diarahkan untuk membangun identitas akademik program studi melalui integrasi antara keilmuan farmasi, potensi biodiversitas daerah, kompetensi masa depan, dan kontribusi terhadap masyarakat. Konsep tersebut menekankan pentingnya keterhubungan antara disiplin utama farmasi, keunggulan lokal, teknologi masa depan, serta dampak sosial dari lulusan yang dihasilkan.
Wakil Dekan I Bidang Akademik FKIK Universitas Khairun, dr. Nur Upik En Masrika, M.Biomed., menjelaskan bahwa pemutakhiran kurikulum merupakan bagian dari upaya memastikan proses pendidikan berjalan sesuai dengan kebutuhan profesi. Melalui implementasi kurikulum OBE, setiap mata kuliah harus memiliki keterkaitan dengan CPL dan mendukung pencapaian kompetensi mahasiswa.
Kepala Unit Penjaminan Mutu (UPM) FKIK Universitas Khairun, Nini Sahrianti, S.Farm., M.Biomed., menambahkan bahwa penyusunan kurikulum yang selaras dengan standar LAM-PTKes menjadi aspek penting dalam membangun budaya mutu akademik dan kesiapan akreditasi program studi.
Selama kegiatan berlangsung, peserta melakukan berbagai tahapan penyusunan dokumen akademik, mulai dari pemutakhiran dokumen pengajuan PSPPA, penyusunan visi keunggulan program studi, profil lulusan, CPL, konstruksi mata kuliah, bahan kajian, Rencana Pembelajaran Semester (RPS), hingga Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) sebagai instrumen asesmen pembelajaran.
Prof. Yandi menegaskan bahwa penyusunan kurikulum berbasis OBE harus dimulai dari pertanyaan mendasar mengenai lulusan seperti apa yang dibutuhkan masyarakat dan dunia kerja di masa depan. Pendekatan tersebut berbeda dengan pola lama yang hanya berfokus pada penambahan mata kuliah karena kurikulum harus dibangun berdasarkan kebutuhan kompetensi lulusan.
Melalui kegiatan workshop ini, Universitas Khairun berharap mampu menghasilkan desain kurikulum S1 Farmasi dan PSPPA yang terintegrasi, adaptif, inovatif, serta sesuai dengan standar akreditasi nasional. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Unkhair dalam menghadirkan pendidikan profesi apoteker unggulan yang berbasis karakteristik wilayah kepulauan Maluku Utara dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.(Id/Red)
