TERNATE, DETIKMALUT.com - Dunia kerja tidak lagi hanya menuntut ijazah. Bagi generasi muda, kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, bekerja bersama orang lain, hingga kesiapan menghadapi budaya kerja menjadi bekal yang semakin penting.
Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam Diskusi Publik bertema “Tantangan Gen Z di Dunia Kerja” yang diselenggarakan Komunitas Lentera Jiwa di Cafe Keiko Area Benteng Orange, Ternate (13/8). Kegiatan tersebut menghadirkan praktisi Human Resources (HR), Rahmat Made, dan akademisi Program Studi Psikologi Universitas Khairun sekaligus Founder Lentera Jiwa, Abdul Hamid.
Lebih dari 90 peserta dari berbagai kalangan hadir dalam kegiatan tersebut. Tidak hanya mahasiswa, forum juga menjadi ruang bertemunya anak muda dari berbagai latar belakang untuk membicarakan tantangan yang kemungkinan mereka hadapi ketika memasuki dunia kerja.
Rahmat Made dalam diskusi tersebut menyoroti adanya kesenjangan antara keterampilan yang dimiliki lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Menurutnya, generasi muda perlu memahami bahwa tuntutan pekerjaan dapat berubah dan tidak selalu sama dengan apa yang diperoleh selama berada di bangku pendidikan.
“Tantangannya bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi memastikan skill yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan dunia kerja,” ujarnya.
Selain kesenjangan keterampilan, Rahmat juga menyoroti benturan budaya kerja yang dapat dialami generasi muda ketika mulai memasuki lingkungan profesional. Perbedaan cara berkomunikasi, pola kerja, kedisiplinan, serta ekspektasi antara pekerja muda dan organisasi menjadi hal yang perlu dipahami sejak awal.
Sementara itu, Abdul Hamid mengajak mahasiswa dan generasi muda untuk tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis. Menurutnya, soft skill dan mindset perlu dipersiapkan sejak masa pendidikan agar mahasiswa tidak sekadar memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga mampu beradaptasi ketika memasuki dunia kerja.
“Mahasiswa perlu mempersiapkan soft skill dan mindset sejak sekarang, karena dunia kerja membutuhkan orang yang mampu beradaptasi, berkomunikasi, dan terus belajar,” pungkasnya.
Menurut Abdul Hamid, proses mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja tidak harus menunggu sampai seseorang lulus kuliah. Pengalaman berorganisasi, mengikuti kegiatan sosial, berdiskusi, membangun jejaring, serta berani mencoba berbagai pengalaman dapat menjadi bagian dari proses pengembangan diri.
Hal tersebut pula yang membuat diskusi berlangsung cukup dinamis. Peserta tidak hanya mendengarkan pemaparan dari kedua narasumber, tetapi juga aktif mengajukan pertanyaan dan menyampaikan pandangan mengenai pengalaman mereka sebagai generasi muda yang sedang mempersiapkan masa depan.
Salah seorang peserta, Rafli, mengaku diskusi tersebut membuatnya melihat persiapan memasuki dunia kerja dari sudut pandang yang lebih luas.
“Saya jadi sadar bahwa kuliah saja tidak cukup. Kita juga harus menyiapkan skill dan cara berpikir,” ujar mahasiswa semester akhir di Unkhair tersebut.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Berbagai pertanyaan yang muncul menunjukkan adanya minat anak muda untuk memahami lebih jauh mengenai tuntutan dunia kerja sekaligus bagaimana mempersiapkan diri sejak masih berada di bangku kuliah.
Bagi Komunitas Lentera Jiwa, tingginya partisipasi tersebut menjadi salah satu alasan untuk terus menghadirkan ruang belajar dan diskusi bagi generasi muda di Maluku Utara. Diskusi mengenai dunia kerja dipandang tidak hanya sebagai kegiatan berbagi informasi, tetapi juga sebagai ruang untuk mendorong anak muda berani bertanya, bertukar pengalaman, dan mengenali kebutuhan pengembangan dirinya.
Abdul Hamid mengatakan kegiatan serupa akan terus didorong oleh Lentera Jiwa ke depan sebagai bagian dari upaya membangun budaya belajar di kalangan kaum muda.
“Kami ingin Lentera Jiwa menjadi ruang bagi anak muda untuk terus belajar, berdiskusi, dan mengembangkan dirinya,” ujarnya.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa isu dunia kerja tidak hanya menjadi persoalan ketika seseorang sudah lulus dan mencari pekerjaan. Persiapan dapat dimulai jauh sebelumnya melalui penguatan keterampilan, pola pikir, pengalaman, dan kemampuan beradaptasi.
Dengan rencana menghadirkan kegiatan serupa secara berkelanjutan, Komunitas Lentera Jiwa berharap semakin banyak anak muda Maluku Utara yang memiliki ruang untuk belajar dan mengembangkan potensi diri.
Dari sebuah diskusi di sudut Kota Ternate, percakapan tentang Gen Z dan dunia kerja pun berkembang menjadi pesan sederhana: masa depan tidak hanya perlu dipersiapkan dengan ijazah, tetapi juga dengan kemauan untuk terus belajar dan berkembang.(Id/Red)
