WEDA, DETIKMALUT.com - Kehidupan warga Desa Sagea, Kecamatan Weda Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, berjalan berdampingan dengan kekayaan alam yang dimiliki. Alam menjadi bagian penting dalam kehidupan warga sehari-hari, mulai dari sumber air, lahan, hingga laut yang mendukung aktivitas warga.
Namun, di balik potensi alamnya yang berlimpah, warga desa menghadapi berbagai persoalan lingkungan yang turut memengaruhi aktivitas dan kehidupan desa.
Bagi warga, air merupakan kebutuhan utama yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Warga memanfaatkan sumber air untuk minum, mandi, mencuci, memasak, hingga kebutuhan lainnya.
Kondisi sumber air dan lingkungan menjadi perhatian yang penting karena berdampak langsung terhadap ketersediaan dan kualitas air yang digunakan oleh warga desa.
Perubahan penggunaan lahan juga menjadi salah satu perhatian, tidak hanya di Desa Sagea, namun desa lingkar tambang lainnya. Aktivitas pembukaan lahan yang kian meluas untuk pertambangan dapat berdampak pada kehidupan warga desa yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan nelayan yang mengeluhkan permasalahan pengelolaan hutan dan perkebunan hingga hasil tangkapan ikan.
Pembukaan dan pemanfaatan lahan tanpa memperhatikan regulasi lingkungan yang benar dapat merusak tutupan vegetasi dan mengganggu kemampuan tanah dalam menyerap air.
Melihat kondisi tersebut, IPB University dalam program Dosen Pulang Kampung yang diinisiasi oleh Direktorat Pengembangan Masyarakat Agromaritim (DPMA) berkolaborasi bersama Lazis Muhammadiyah, AiKite, dan International Water Association YWP Indonesia melakukan tindak lanjut untuk memperkuat masyarakat lokal agromaritim terhadap ketahanan air bersih dan iklim, termasuk petani dan nelayan di Halmahera Tengah, Indonesia yang terdampak oleh industri ekstraktif nikel.
Kegiatan ini dilakukan melalui sosialisasi Program Strategi Ketahanan Air Bersih dan Mitigasi Bencana Iklim di Tengah Industri Ekstraktif yang dilaksanakan di Desa Sagea, Maluku Utara.
Kegiatan sosialisasi tidak hanya memaparkan materi, tetapi juga melibatkan warga desa dalam kegiatan praktik secara langsung. Warga diajak untuk memahami kondisi air yang bersih dan air yang telah tercemar dengan melihat karakteristik dan kondisi air secara lebih dekat.
Pendekatan ini dilakukan agar informasi yang diberikan tidak hanya dipahami secara teori saja, tetapi juga dapat dikaitkan dengan kondisi sumber air yang digunakan warga dalam kehidupan sehari-hari sehingga warga dapat mengenali lebih awal adanya pencemaran air secara ilmiah.
Selain pengenalan kondisi air, kegiatan ini juga turut memfasilitasi warga dalam pembangunan dan perbaikan infrastruktur air minum desa yang didukung oleh Lazis Muhammadiyah dengan pendampingan langsung di lapangan oleh dosen Teknik Sipil dan Lingkungan, IPB University, Nuha Anfaresi, diketuai oleh Zainab Ramadhanis dan disupervisi oleh Professor Chusnul Arif.
Kegiatan ini merupakan kegiatan yang berdampak bagi masyarakat desa terutama untuk pengembangan ekonomi, sosial, dan lingkungan melalui pengembangan infrastruktur air minum.
“Sudah banyak sekali kegiatan sosialisasi yang datang, tapi menurut saya, rencana tindak lanjutnya sampai hari ini tidak terlihat. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang paling berdampak bagi desa kami karena langsung menyasar ke pembangunan infrastruktur air dan menguntungkan badan usaha desa,” ungkap Bustamin, Sekretaris Desa Sagea.
“Saat ini, wilayah tangkapan nelayan sangat terdampak. Melalui sosialisasi ini, kami, masyarakat bisa tahu bagaimana kondisi wilayah dan lingkungan di sekitar wilayah pertambangan dekat dengan daerah kami. Saya berharap ke depannya kegiatan ini dapat ditindaklanjuti sehingga masyarakat dapat melihat dan memperoleh manfaat dari kegiatan ini. Selain itu, kami berharap ada dari pemerintah pusat yang hadir untuk dapat menyelesaikan persoalan yang ada di desa,” ungkap Pak Samsudin, nelayan Desa Sagea.
Keterlibatan warga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Warga tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga terlibat dalam proses praktik dan diskusi selama kegiatan sosialisasi dan pengembangan infrastruktur berlangsung.
Pengalaman warga dalam menggunakan sumber air dan menghadapi perubahan kondisi lingkungan menjadi bagian dari pembelajaran bersama. Dengan cara ini, kegiatan sosialisasi diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mudah diterapkan pada kehidupan sehari-hari.
Selain itu, kegiatan pemulihan infrastruktur air bersih air minum dapat mendukung kesehatan masyarakat, peningkatan ekonomi desa hingga pemulihan lingkungan.
Melalui kolaborasi antara IPB University, Lazis Muhammadiyah, AiKite, dan International Water Association YWP Indonesia, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah dalam memperkuat ketahanan masyarakat lingkar tambang terhadap kualitas air bersih, sanitasi, serta kesiapsiagaan menghadapi risiko perubahan iklim.
Upaya menjaga lingkungan pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai kondisi alam, tetapi juga mengenai keberlangsungan kehidupan masyarakat yang bergantung langsung pada alam di sekitarnya.(Id/Red)