![]() |
OBI, DETIKMALUT.com - Ketegangan mewarnai aksi warga di Desa Kawasi, Pulau Obi, ketika keluarga Hasan memblokir akses menuju lokasi pembangunan bendungan PT Harita Group di Sungai Akelamo, Sabtu (22/11/2025). Pemalangan ini muncul sebagai luapan kekecewaan mereka atas penyelesaian kerusakan kebun yang tak kunjung ditindaklanjuti pihak perusahaan.
Aksi berlangsung sekitar pukul 10.00 WIT. Keluarga Hasan yang merasa dirugikan akibat perubahan aliran sungai menutup jalan menuju area proyek. Mereka menilai kerusakan lahan yang sudah lama terjadi tak pernah mendapatkan kejelasan penyelesaian.
Kebun kelapa milik keluarga tersebut, yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan, hancur diterjang arus setelah aliran sungai berubah karena aktivitas pembangunan bendungan.
“Ini bukan sekadar tanah. Ini hidup kami. Harita bangun bendung, sungai berubah, kebun kami rusak. Sampai hari ini mereka tidak bertanggung jawab,” tegas Hamid Hasan.
Hamid mengungkapkan bahwa beberapa kali pihak perusahaan datang membawa janji mediasi, namun tidak satupun berakhir pada penyelesaian yang nyata. Bahkan ketika mereka menanyakan tujuan pengeboran sungai, jawaban yang diterima hanya sebatas “rahasia”.
“Ternyata rahasianya kebun kami tenggelam, tanah kami diambil, dan kami dibohongi,” akunya.
Di lapangan, sejumlah ibu-ibu dari keluarga Hasan berdiri menutup badan jalan, menghentikan keluar-masuk truk pengangkut material proyek. “Tidak ada material lewat! Bayar dulu hak kami! Ini tanah kami, bukan tanah Harita,” teriak Junet, salah satu ahli waris.
Sekitar pukul 12.27 WIT, aparat TNI dan Polri tiba di lokasi. Bukannya meredam ketegangan, kehadiran mereka justru sempat memicu suasana semakin panas karena situasi dihadapkan dengan dorongan untuk membuka akses jalan.
Sejumlah petugas keamanan perusahaan, termasuk Koordinator BKO/Supervisor Security berinisial O alias Okto, terlihat di lokasi dan berusaha membubarkan massa. Namun menurut keterangan ahli waris, tindakan Okto justru memperkeruh keadaan dengan bentakan dan ancaman.
“Kami dibentak. Koordinator BKO security inisial O alias Okto teriak danton, danki ‘tembak-tembak satu satu’. Kami jawab: ‘Silakan tembak, kami tidak takut mati. Kami cuma pertahankan harta orang tua kami’,” tutur Junet.
Ia berharap aparat negara dapat bersikap adil dan melindungi warga. “Kami mohon TNI dan Polisi jangan tekan kami, dan bantu kami. Harita belum jawab hak kami, kenapa kami yang dihadang,” ujarnya.
Upaya meminta klarifikasi dari Okto gagal dilakukan. Saat awak media mendekat, ia memilih menghindar dan hanya berkata singkat, “Tidak ada komentar,” sebelum meninggalkan lokasi tanpa memberikan penjelasan.
Setelah ketegangan mereda, negosiasi antara ahli waris, aparat, dan perwakilan perusahaan berlangsung hingga sekitar pukul 15.20 WIT. Namun pertemuan tersebut belum menghasilkan keputusan terkait tuntutan ganti rugi keluarga Hasan.
Dari total 5 hektare kebun milik keluarga Hasan, lebih dari 2 hektare dilaporkan telah rusak parah akibat abrasi, sementara 3 hektare lainnya terancam hilang jika proyek tetap berlanjut tanpa solusi. Hamid menegaskan aksi pemalangan akan terus dilakukan hingga hak mereka dipenuhi.
Perwakilan CSR Harita Group menyatakan kesediaan untuk memfasilitasi dialog. “Hari Senin kami siap memediasi. Pemerintah desa juga akan kami libatkan,” ujarnya. Namun keluarga Hasan menegaskan telah terlalu sering menerima janji serupa. Hingga berita ini ditayangkan, pihak Harita Group belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden maupun tuntutan warga.(*)

