Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan OMC.
“Saya mewakili Pemerintah Provinsi Maluku Utara, pemerintah kabupaten/kota, serta 1,4 juta warga Malut mengucapkan terima kasih atas intervensi OMC ini. Terima kasih atas sinergi yang sangat baik dari seluruh pihak BNPB, BMKG, TNI-Polri, pemerintah daerah, hingga tim pilot,” ucap Sherly saat memberikan keterangan pers di Apron Bandara Sultan Baabullah Ternate, Kamis (10/9/2026).
Menurut Sherly, OMC menjadi langkah penting dalam menghadapi kondisi kemarau ekstrem yang meningkatkan ancaman Karhutla sekaligus berdampak terhadap ketersediaan air masyarakat.
Operasi tersebut mulai dilaksanakan pada 5 September 2026 setelah Pemprov Malut mengajukan permohonan bantuan kepada BNPB menyusul meningkatnya ancaman Karhutla sejak akhir Agustus.
Hasilnya, hujan berhasil turun di sejumlah wilayah, di antaranya Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Halmahera Barat, Halmahera Utara, Pulau Morotai, dan Kota Tidore Kepulauan. Kondisi itu turut membantu mengurangi sejumlah titik api.
Hingga penerbangan keenam pada Kamis (10/9), pesawat Cessna Caravan yang digunakan untuk OMC telah menyemai sedikitnya enam ton garam atau NaCl di atmosfer wilayah Maluku Utara.
Melihat masih adanya potensi awan hujan, pelaksanaan OMC kemudian diperpanjang hingga 12 September 2026. Operasi selanjutnya diarahkan untuk menjangkau wilayah yang masih membutuhkan curah hujan, termasuk Kota Ternate, Kepulauan Sula, Pulau Taliabu, dan Halmahera Selatan.
“Melihat potensi awan hujan yang masih tersedia, masa operasi penyemaian resmi diperpanjang hingga 12 September 2026 untuk menjangkau target wilayah berikutnya, seperti Kota Ternate, Kepulauan Sula, Pulau Taliabu, dan Halmahera Selatan,” kata Sherly.
Di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung, Sherly juga meminta masyarakat tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar. Ia mengingatkan bahwa kondisi vegetasi yang sangat kering membuat api mudah meluas dan sulit dikendalikan.
“Saya meminta kepada seluruh warga masyarakat yang ingin membuka lahan, jangan sekali-kali menggunakan dengan cara membakar. Dalam kondisi tanah dan vegetasi yang sangat kering, percikan api kecil bisa memicu kebakaran besar yang sangat sulit dipadamkan,” imbuhnya.
Kepala Stasiun BMKG Sultan Baabullah Ternate, Desindra Deddy Kurniawan, menjelaskan September secara historis merupakan periode puncak musim kemarau di Maluku Utara. Kondisi tersebut tahun ini semakin diperkuat oleh fenomena El Nino.
Meski demikian, kondisi atmosfer masih memungkinkan dilakukannya penyemaian awan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan.
“Secara teoritis, potensi hujan alami pada September hampir tidak ada. Namun, melalui intervensi modifikasi cuaca pada wilayah tutupan awan potensial, hujan intensitas ringan hingga sedang berhasil diturunkan. Ini menjadi berkah besar di tengah kemarau ekstrem,” jelas Desindra.
Pemprov Maluku Utara bersama BNPB, BMKG, TNI-Polri dan seluruh stakeholder diharapkan terus memperkuat sinergi untuk mengendalikan ancaman Karhutla sekaligus mengurangi dampak kekeringan dan krisis air bersih di wilayah Maluku Utara.(Red)