![]() |
Oleh : Faujia Umasugi Akademisi UMMU Ternate
SETIAP tahun kita merayakan 17 Agustus dengan upacara, lomba, dan semarak merah putih yang memenuhi ruang-ruang publik. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang sering luput dipikirkan: apakah kemerdekaan yang kita rayakan benar-benar sudah dirasakan semua orang?
Kemerdekaan sejatinya tidak berhenti pada seremoni. Ia hidup dalam cara kita bekerja, berkarya, bersuara, dan mengambil peran dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa itu, kemerdekaan hanya menjadi perayaan yang berulang tanpa makna yang benar-benar menyentuh.
Di tahun 2026 ini, pertanyaan itu kembali menguat terutama ketika kita berbicara tentang perempuan.
Karena masih perlu direnungkan: apakah perempuan hari ini sudah benar-benar merdeka untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, menyampaikan pendapatnya, dan berdiri sebagai dirinya tanpa batasan yang tak terlihat?
Perempuan bukan sekadar pelengkap dalam perjalanan bangsa. Mereka adalah bagian dari denyut perubahan itu sendiri. Dari rumah, sekolah, ruang komunitas, hingga dunia kerja dan ruang publik, perempuan hadir membawa gagasan, solusi, dan kekuatan yang sering kali tidak disadari besarnya.
“Kalau kita bicara kemerdekaan, maka itu bukan hanya tentang mengenang masa lalu. Tapi tentang memastikan hari ini semua orang punya ruang yang sama untuk tumbuh. Perempuan tidak boleh hanya jadi pendukung di belakang layar,” ungkap Faujia Umasugi.
Ia menegaskan bahwa ukuran kemerdekaan modern bisa dilihat dari seberapa luas ruang yang diberikan kepada perempuan untuk berkembang tanpa batasan yang tidak perlu.
Ironisnya, kita sering merayakan kemerdekaan dengan meriah, tetapi masih membiarkan sebagian orang, termasuk perempuan, berjuang diam-diam untuk sekadar didengar.
Karena itu, perempuan perlu terus memperkuat diri: belajar, berkembang, berani tampil, dan menciptakan dampak nyata di lingkungannya. Bukan hanya menunggu kesempatan, tetapi juga membuka jalan bagi perempuan lain agar ikut maju bersama.
Di Maluku Utara, semangat ini bisa tumbuh dari hal sederhana: mengangkat potensi daerah, terlibat dalam pendidikan, menjaga lingkungan sosial, hingga menghadirkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
Sebab kemerdekaan bukan hanya soal “bebas dari penjajahan”, tetapi juga tentang “bebas untuk menjadi” — bebas untuk belajar, bersuara, berkarya, dan menentukan arah hidup sendiri.
Maka 17 Agustus seharusnya tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga momen untuk bertanya kembali: sudah sejauh mana kita merawat kemerdekaan itu dalam kehidupan nyata?
Karena kemerdekaan tidak akan bertahan hanya dengan mengenang sejarah. Ia hidup karena generasi hari ini memilih untuk terus bergerak, berkarya, dan tidak berhenti menjadi bagian dari perubahan.
Dan bagi perempuan, inilah saatnya mengambil langkah yang lebih tegas dan lebih jauh: bukan hanya hadir dalam ruang kemerdekaan, tetapi memimpin arah geraknya. Menjadi penggerak gagasan, penentu keputusan, dan pembuka jalan bagi generasi berikutnya. Sebab kemerdekaan yang sejati adalah ketika perempuan tidak hanya ikut merayakan, tetapi ikut menentukan ke mana bangsa ini melangkah.(*)
