![]() |
TERNATE, DETIKMALUT.com - Menjaga kesehatan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang rumit. Bagi masyarakat, kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun, menggunakan air bersih, mengelola sampah, hingga menjaga kebersihan lingkungan dapat menjadi langkah awal untuk mencegah berbagai penyakit.
Pesan itulah yang dibawa 11 mahasiswa KKN Tematik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Khairun saat memberikan edukasi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) kepada anggota Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Provinsi Maluku Utara di Kantor Kelurahan Kasturian, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Rabu (1/7/2026).
Kegiatan bertajuk “Penerapan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat untuk Mencegah Penyakit Infeksi Berbasis Lingkungan” tersebut menjadi salah satu program kerja mahasiswa KKN Tematik FKIK Universitas Khairun yang menyasar peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya sanitasi dalam kehidupan sehari-hari.
Penyuluhan turut dihadiri Dosen Pembimbing Lapangan dr. Wahyunita, M.Biomed., Lurah Kasturian Isra Borotu, S.E., beserta jajaran, serta perwakilan Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Provinsi Maluku Utara. Bagi para peserta, kegiatan tersebut bukan hanya tentang mendengarkan materi. Mereka juga mendapatkan ruang untuk berbagi pengalaman mengenai kondisi sanitasi di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Mahasiswa memperkenalkan lima pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) sebagai langkah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Peserta diajak memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, mencuci tangan dengan sabun, mengelola sampah dengan baik, serta memperhatikan penggunaan air bersih sebagai bagian dari upaya mencegah penyakit yang ditularkan melalui lingkungan.
Dosen Pembimbing Lapangan KKN Tematik FKIK Universitas Khairun, dr. Wahyunita, M.Biomed., menilai edukasi kesehatan perlu menjangkau seluruh lapisan masyarakat agar informasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat dapat dipahami dan diterapkan secara lebih luas. “Kesehatan dan informasi tentang perilaku hidup bersih harus dapat diakses oleh semua. Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan pengetahuan yang bermanfaat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Penyampaian materi dilakukan dengan bahasa yang mudah dipahami. Pendekatan tersebut membuat suasana kegiatan berlangsung lebih terbuka dan interaktif. Peserta tidak hanya menyimak penjelasan dari mahasiswa, tetapi juga aktif mengajukan pertanyaan dan berbagi cerita tentang kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka. Diskusi yang berlangsung kemudian menjadi ruang pertukaran pengalaman antara mahasiswa dan peserta mengenai langkah-langkah sederhana untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
Lurah Kasturian, Isra Borotu, S.E., menyambut baik kegiatan yang menyasar kelompok penyandang disabilitas tersebut. Menurutnya, edukasi kesehatan perlu diberikan kepada seluruh warga tanpa terkecuali. “Kami menyambut baik kegiatan ini karena memberikan pengetahuan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Harapannya, informasi yang diperoleh dapat diterapkan di rumah dan lingkungan masing-masing,” ujarnya.
Bagi salah seorang peserta dari kelompok penyandang disabilitas, kegiatan tersebut memberikan pemahaman baru mengenai hubungan antara kebersihan lingkungan dan kesehatan keluarga. Sebut saja Nur, salah satu peserta kegiatan, yang mengaku mendapat manfaat dari materi yang disampaikan. “Materinya mudah dipahami. Kami jadi lebih mengerti bahwa menjaga kebersihan lingkungan itu juga bagian dari menjaga kesehatan keluarga,” ujarnya.
Bagi mahasiswa KKN Tematik FKIK Universitas Khairun, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk membawa pengetahuan yang diperoleh di kampus lebih dekat kepada masyarakat. Interaksi langsung dengan peserta juga memberikan pengalaman bagi mahasiswa bahwa edukasi kesehatan perlu disampaikan dengan pendekatan yang dapat dipahami oleh kelompok sasaran.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap kesadaran mengenai sanitasi tidak berhenti setelah kegiatan penyuluhan berakhir. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, seperti mencuci tangan dengan sabun, menjaga sumber air, mengelola sampah, dan menjaga kebersihan lingkungan, diharapkan dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, kegiatan di Kelurahan Kasturian tersebut membawa pesan sederhana bahwa upaya menciptakan lingkungan yang sehat merupakan tanggung jawab bersama dan setiap orang berhak memperoleh pengetahuan untuk menjaga kesehatannya. Bagi para peserta, pengetahuan tentang sanitasi mungkin dimulai dari sebuah penyuluhan. Namun, perubahan yang diharapkan dapat dimulai ketika pengetahuan itu dibawa pulang, diterapkan di rumah, dan perlahan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. (Id/Red)
