Iklan

Notification

×

Iklan

Iklan

HIPMI MALUT DAN CAMAR HERRING

Senin | Juni 01, 2026 WIB Last Updated 2026-06-01T00:41:03Z
iklan
Oleh : Imran Guricci

TEMUAN ILMUAN Belanda, Nicolas Tinbergen pada tahun 1940, tentang perilaku anak burung Camar Herring rasanya menarik kita ulik di tema ini. 

Anak-anak burung Camar Herring yang baru menetas terbiasa mematuk titik merah pada paruh induknya. Insting mereka berkata bawah titik merah adalah makanan yang bisa mengenyangkan, walau kenyataannya tidak.

Nicolas pun membuat paruh palsu mirip punya sang induk tetapi dengan titik merah yang lebih besar. Apa yang terjadi ? Ternyata anak-anak camar semakin berhasrat untuk mematuk titik merah di paruh palsu tersebut. Kesimpulan Nicolas: besar titik merah di ujung paruh bisa merubah perilaku.

Tidak hanya sampai di situ, temuan ini juga menilai kalau manusia juga cenderung terkecoh oleh versi-versi lebih besar dari realitas. Ilmuan menyebutnya dengan supernormal stimuli yang sering digunakan untuk merubah perilaku manusia. Termasuk perilaku berorganisasi.

Nah kita geser ke HIPMI Malut sebagai sebuah organisasi yang sudah matang. Walaupun kegagalan 2 kali perhelatan Musyawarah Daerahnya mengoyak kematangannya. Dan Musyawarah yang ke-3 (Musdalub) pun akan digelar dengan isu pembatalan dan penolakan. Apakah akan gagal lagi ? Kita lihat nanti. Tapi yang menarik bagi saya ini bagian dari supernormal stimuli/di luar normal.

Ada Nicolas-Nicolas lain yang coba membuat paruh palsu di sini dengan cerita-cerita di luar normal. Dengan harapan bayi-bayi burung camar semakin bergairah mematuk kursi HIPMI Malut, walau kenyataannya semu. Apa kepentingan Nicolas ? Saya tidak tahu. Tapi yang jelas ini sedikiti menggeser perilaku kita dalam berorganisasi.(*)
×
Berita Terbaru Update