Rakerwil tersebut dihadiri Ketua Umum DPP GEKRAFS, Kawendra Lukistian, bersama perwakilan sejumlah BUMN seperti PT PLN (Persero), PT Pos Indonesia (Persero), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, serta PT ASDP Indonesia Ferry (Persero). Peserta kegiatan berasal dari 10 kabupaten/kota se-Maluku Utara.
Ketua DPW GEKRAFS Maluku Utara, Imran Guraicci, menyampaikan bahwa forum ini menjadi momentum penting untuk menyusun arah program kerja sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Ia menegaskan bahwa fokus utama yang diusung adalah “Sinergi Karya”, yaitu mendorong kerja sama antara pelaku UMKM dengan BUMN agar tercipta ekosistem usaha yang lebih kuat dan berkelanjutan.
“Kami menghadirkan BUMN dalam talkshow agar pengurus memiliki insight dalam menyusun program kerja. Salah satu yang paling konkret adalah sinergi dengan ASDP, di mana mereka siap menyediakan ruang di kapal maupun pelabuhan bagi teman-teman kreatif untuk menampilkan karya atau produk ekraf mereka,” ungkap Imran.
Menurutnya, kolaborasi tersebut memberikan keuntungan dua arah, di mana pelaku ekonomi kreatif memperoleh ruang promosi, sementara layanan publik seperti transportasi mendapat nilai tambah melalui kehadiran karya dan hiburan dari talenta lokal.
Selain penguatan di tingkat lokal, GEKRAFS Maluku Utara juga menargetkan perluasan pasar hingga ke tingkat internasional melalui rencana misi dagang ke Tiongkok pada 1 November 2026, setelah sebelumnya menjangkau beberapa negara.
Ketua Umum DPP GEKRAFS, Kawendra Lukistian, menilai kegiatan ini sebagai peluang strategis untuk meningkatkan daya saing pelaku ekonomi kreatif sekaligus memperluas jaringan kerja sama.
“Kolaborasi dengan BUMN memberikan peluang besar bagi para pejuang ekonomi kreatif. Ini bukan sekadar kegiatan, tetapi kesempatan nyata yang harus dimanfaatkan dengan maksimal,” tegas Kawendra.
Ia juga menekankan pentingnya inovasi dalam pengelolaan usaha serta mengaitkan pengembangan ekonomi kreatif dengan visi pembangunan nasional yang diusung Presiden Prabowo Subianto.
“Ekonomi dunia sedang bergeser dari ekstraktif ke sumber daya kreatif. Contoh sederhana, pisang jika diolah dan dikemas dengan baik melalui kreativitas, nilai tambahnya akan jauh lebih tinggi dan menciptakan lapangan kerja,” ujarnya.

