![]() |
Oleh: Herman Oesman Dosen Sosiologi FISIP Universitas Muhammadiyah Maluku Utara
“Saya lebih senang melihat bangsa ini berdiri tegak karena kejujuran, bukan karena kekuasaan” (Hatta, dalam Memoir, 1979).
DALAM lanskap politik Indonesia, gambaran tentang pejabat publik acapkali identik dengan kemewahan, kekuasaan, flexing, dan gaya hidup serba berlebih yang akhir-akhir ini ramai di media sosial. Namun, sejarah negeri ini juga pernah mencatat adanya tokoh-tokoh yang justru tampil berbeda: mereka sederhana, berpengetahuan luas, bersahaja, dan menjadikan integritas moral sebagai fondasi hidup. Adalah Mohammad Hatta, wakil presiden pertama Republik Indonesia; Baharuddin Lopa, jaksa agung yang dikenal bersih dan antikorupsi; serta Mar'ie Muhammad, Menteri Keuangan di era Orde Baru (1993–1998) yang dikenal lurus dan dijuluki Mr. Clean. Tiga nama yang selalu hadir dalam perbincangan keteladanan pejabat sederhana.
Kisah ketiganya menjadi cermin tentang apa arti jabatan bila dijalani dengan nilai-nilai kejujuran, kesederhanaan, dan tanggung jawab moral.
Mohammad Hatta, yang lebih akrab dipanggil Bung Hatta, merupakan sosok negarawan yang tak hanya dikenal karena kecerdasannya, tetapi juga karena gaya hidupnya yang jauh dari kemewahan. Kisah paling terkenal adalah tentang sepatu merek Bally. Konon, sejak muda Hatta ingin memiliki sepatu bermerek Swiss itu. Namun, meski telah menjadi wakil presiden, keinginan itu tak pernah terpenuhi. Dalam catatan Meutia Hatta, putrinya, sang proklamator bahkan sempat menulis surat wasiat: bila ia meninggal dunia dan keluarga memiliki cukup uang, barulah ia ingin dikuburkan dengan sepatu Bally (lihat Hatta, Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi, 2002: 505).
Kisah ini bukan sekadar cerita romantik tentang impian sederhana seorang tokoh besar. Lebih dari itu, ia mencerminkan betapa Hatta menolak menggunakan fasilitas negara atau jabatannya untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Sebagai pejabat tinggi negara, ia memiliki akses untuk mendapatkan apa pun. Namun, integritas moral yang melekat pada dirinya membuat ia lebih memilih hidup apa adanya. Bagi Hatta, kekuasaan bukan jalan untuk memperkaya diri, melainkan amanah untuk membangun bangsa.
Tentang hal ini, sejarawan Taufik Abdullah dalam buku Indonesia dalam Arus Sejarah menegaskan bahwa kesederhanaan Bung Hatta merupakan simbol dari “kepemimpinan yang menolak disandera oleh kepentingan pribadi dan materi” (Abdullah, 2012). Dalam era di mana korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan semakin mengakar, teladan Bung Hatta seakan hadir sebagai oase moral.
Selain Hatta, terdapat tokoh lain yang kerap dijadikan simbol pejabat sederhana, yakni Baharuddin Lopa. Lahir di Pambusuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, 27 Agustus 1935, ia dikenal sebagai jaksa yang tegas, keras, lurus, dan antikorupsi. Kariernya panjang, mulai dari jaksa di daerah hingga akhirnya dipercaya menjadi Jaksa Agung Republik Indonesia pada 2001. Meski menduduki jabatan penting, gaya hidupnya tidak berubah: tetap sederhana, apa adanya, tanpa kemewahan.
Dalam catatan Alwi Shihab, Lopa digambarkan sebagai “pribadi yang tak tergoda oleh fasilitas, mobil mewah, atau rumah megah. Ia selalu hidup sesuai kemampuan gajinya sebagai pejabat negara” (Shihab, 2002). Bahkan disebutkan bahwa Lopa kerap masih naik kendaraan umum atau menumpang mobil dinas dengan cara sederhana. Ketika wafat di Jeddah pada 3 Juli 2001, rakyat mengenang dirinya bukan karena kekayaan, melainkan karena integritas dan keberanian menegakkan hukum.
Keteguhan Lopa dalam menolak korupsi sejalan dengan pandangan klasik Max Weber tentang etika pejabat publik: pejabat ideal adalah mereka yang bekerja bukan demi keuntungan pribadi, melainkan demi rasionalitas tujuan negara (Weber, 1978). Dalam konteks Indonesia, Lopa merupakan pengejawantahan nyata dari idealisme tersebut.
Tokoh yang tak kalah sederhana, tegas, dan lurus adalah Mar'ie Muhammad. Seorang ekonom andal dan Menteri Keuangan yang cekatan serta cermat di era Soeharto. Mar'ie lahir di Surabaya, 3 April 1939, dan wafat pada 11 Desember 2016 di RSP Otak Nasional Dr. dr. Mahar Mardjono, Jakarta.
Sejak muda, Mar'ie Muhammad yang dikenal sebagai Mr. Clean telah menunjukkan sikap tegas dan tak main-main dalam mengelola keuangan negara. Mar'ie Muhammad juga dikenal sebagai aktivis HMI sezaman dengan Nurcholish Madjid. Ia dikenal sebagai aktivis HMI yang sederhana, serius, dan detail ketika diberikan amanah.
Kontras
Sayangnya, teladan Bung Hatta, Baharuddin Lopa, dan Mar'ie Muhammad acapkali terasa jauh dari kondisi pejabat masa kini. Banyak pejabat justru tersandung kasus korupsi, memamerkan kekayaan (flexing) yang tak sebanding dengan pendapatan resmi, atau memanfaatkan jabatan untuk memperkaya keluarga dan kroni. Fenomena ini melahirkan krisis kepercayaan publik terhadap institusi negara.
Penelitian yang dilakukan Transparency International Indonesia (TII, 2023) memperlihatkan bahwa indeks persepsi korupsi Indonesia masih stagnan, salah satunya karena perilaku pejabat yang kerap menyelewengkan wewenang. Di tengah realitas seperti ini, kisah Bung Hatta, Baharuddin Lopa, dan Mar'ie Muhammad bukan sekadar nostalgia, melainkan pengingat bahwa pejabat negara seharusnya menjadi teladan moral.
Kesederhanaan bukan berarti miskin atau tidak boleh menikmati hasil kerja. Kesederhanaan dalam konteks pejabat publik merupakan soal integritas dan proporsionalitas: menggunakan fasilitas negara hanya untuk kepentingan publik, bukan pribadi. Bung Hatta bisa saja dengan mudah membeli sepatu Bally melalui jalur kekuasaan, tetapi ia memilih tidak. Lopa pun bisa memanfaatkan jabatannya untuk membangun kekayaan, tetapi ia menolak. Demikian pula Mar'ie Muhammad.
Ketiganya justru menunjukkan bahwa jabatan publik merupakan amanah yang harus dijalankan dengan rasa tanggung jawab moral. Inilah yang membuat masyarakat masih mengenang mereka dengan penuh hormat dan kagum, meski puluhan tahun telah berlalu.
Kisah Bung Hatta, Baharuddin Lopa, dan Mar'ie Muhammad telah menjadi cermin besar bagi bangsa ini untuk berkaca tentang apa artinya menjadi pejabat yang sederhana. Kesederhanaan mereka bukanlah strategi pencitraan, melainkan bagian dari kepribadian yang mengakar dalam nilai-nilai kejujuran. Bung Hatta dengan sepatu Bally yang tak pernah terbeli, Baharuddin Lopa, dan Mar'ie Muhammad yang wafat tanpa meninggalkan kekayaan berlimpah ketiganya merupakan teladan yang layak dihidupkan kembali.
Dalam dunia politik yang kerap dicemari oleh korupsi, nepotisme, dan hedonisme, teladan pejabat sederhana menjadi sumber inspirasi. Seperti yang pernah dikatakan Bung Hatta sendiri, “Saya lebih senang melihat bangsa ini berdiri tegak karena kejujuran, bukan karena kekuasaan” (Hatta, 1979). Kata-kata itu masih relevan hingga hari ini, menantang para pejabat masa kini untuk menimbang kembali: apakah jabatan dijalani sebagai sarana pengabdian, atau sekadar jalan pintas menuju kemewahan pribadi?
Pejabat, hiduplah sederhana...Wallahu a'lam.(*)

