SOFIFI, DETIKMALUT.com - Pemerintah Provinsi Maluku Utara terus memperkuat upaya pembinaan generasi muda melalui penguatan nilai-nilai moderasi beragama, kerukunan, dan toleransi. Salah satu langkah konkret dilakukan dengan menggandeng Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) untuk melaksanakan sosialisasi moderasi beragama di lingkungan sekolah.
Kegiatan yang dipusatkan di SMAN 8 Tidore Kepulauan, Kamis (29/1), ini diikuti ratusan pelajar dari berbagai latar belakang. Sosialisasi tersebut bertujuan menanamkan pemahaman beragama yang adil dan berimbang, menjauhkan sikap ekstremisme, serta menumbuhkan semangat saling menghargai perbedaan demi terciptanya kehidupan yang harmonis dan damai di tengah masyarakat.
Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, dalam arahannya menegaskan pentingnya menjaga dan merawat kerukunan umat beragama, khususnya di tengah realitas kemajemukan Maluku Utara yang kaya akan perbedaan. Ia menilai pelajar memiliki peran strategis sebagai agen perdamaian di masa depan.
Namun demikian, Sarbin juga menyampaikan keprihatinannya terhadap masih adanya praktik intoleransi di wilayah Maluku Utara.
“Kota Ternate menjadi kota yang tidak intoleran di tengah perkembangan pesatnya, tentu ini menjadi keprihatinan kita bersama,” tandas orang nomor dua di Malut tersebut.
Menurutnya, pemerintah pusat melalui Kementerian Agama secara konsisten mendorong pengarusutamaan moderasi beragama sebagai pendekatan dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama. Moderasi beragama, lanjutnya, merupakan cara pandang yang menempatkan nilai keadilan dan keseimbangan, serta menolak sikap ekstrem, baik ke arah kanan maupun kiri.
Sebelum mengakhiri sambutannya, Sarbin Sehe menyampaikan apresiasi kepada FKUB dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara yang telah berkolaborasi menginisiasi kegiatan edukatif tersebut.
"Program ini memberi wawasan kepada siswa SMA/SMK/Madrasah tentang pentingnya bersikap moderat dalam menghadapi isu-isu keagamaan, serta menghargai perbedaan sebagai bagian dari kekayaan bangsa," kata Wagub menutup dengan khidmat.
Kegiatan ini diharapkan menjadi fondasi kuat dalam membentuk generasi muda yang memiliki pemahaman keagamaan yang inklusif, toleran, dan berorientasi pada persatuan. Kerukunan, baik di internal umat beragama maupun antarumat beragama, diyakini menjadi modal sosial utama bagi Maluku Utara untuk terus tumbuh sebagai daerah yang maju, damai, dan berdaya saing.(*)


