Iklan

Notification

×

Iklan

Iklan

Hari Jalan 2025, Menghubungkan Harapan dan Kedaulatan Pangan di Maluku Utara

Selasa | Desember 23, 2025 WIB Last Updated 2025-12-23T12:23:00Z
iklan
Oleh: M. Sudarwin Hasyim. ST.,MT Akademisi Universitas Bumi Hijrah Maluku Utara. Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Teknik Sipil (Manajamen Konstruksi) Brawijaya Malang.

SETIAP tanggal 20 Desember, Indonesia memperingati Hari Jalan Nasional. Tanggal ini bukan sekadar angka dalam kalender administratif, melainkan pengingat sejarah atas terhubungnya seluruh ruas Jalan Tol Trans Jawa pada tahun 2018 yang menjadi tonggak konektivitas nasional. Namun, bagi kita di Maluku Utara, peringatan ini harus menjadi momentum refleksi yang lebih dalam: sejauh mana aspal dan jembatan telah benar-benar memerdekakan mobilitas masyarakat di wilayah kepulauan?. 

Tema yang diusung dihari Hari Jalan Tahun 2025, "Konektivitas Jalan Mendukung Swasembada Pangan," membawa pesan yang sangat krusial. Di Maluku Utara, jalan nasional adalah tulang punggung yang mendistribusikan hasil pertanian dari ladang-ladang di Halmahera menuju pasar dan pusat konsumsi. Tanpa jalan yang memadai, potensi pangan kita akan terhambat oleh mahalnya biaya logistik dan lambatnya distribusi. Infrastruktur yang baik adalah pondasi utama untuk mengurangi ketimpangan antarwilayah dan memastikan ketahanan pangan menyentuh setiap sudut kepulauan. 

Fakta Lapangan dan Tantangan di Maluku Utara
Kita harus mengapresiasi kerja keras Kementerian PUPR melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Maluku Utara yang terus berupaya membangun dan memelihara ribuan kilometer jalan di Halmahera, Ternate, Tidore, hingga Morotai. Program seperti Instruksi Presiden (Inpres) Jalan Daerah (IJD) 2025 menjadi angin segar bagi percepatan pembangunan jembatan dan akses jalan strategis di Halmahera Timur dan Utara. 

Namun, kejujuran dalam melihat fakta lapangan tetap diperlukan. Kita masih mendengar keluhan warga di Kelurahan Kulaba yang harus menimbun lubang jalan secara swadaya. Di Pulau Morotai, kerusakan jalan bahkan dilaporkan sempat menghambat laju ambulans yang membawa pasien. Belum lagi tantangan daya tahan infrastruktur, seperti ruas Motorpol– Totodoku yang menunjukkan kerusakan meski baru berumur setahun. Cuaca tropis yang ekstrem dan tantangan geografis memang menjadi lawan berat, namun kualitas dan keberlanjutan pembangunan tidak boleh dikorbankan.

Harapan dan Langkah ke Depan
Hari Jalan 2025 harus menjadi titik balik bagi penguatan kolaborasi. BPJN Maluku Utara telah menunjukkan langkah positif melalui pemanfaatan teknologi e-monitoring untuk pengawasan dan koordinasi aktif dengan pemerintah daerah. Upaya merespons keluhan warga terkait jalan berlubang akibat hujan deras adalah bentuk layanan publik yang harus terus ditingkatkan.

Jalan nasional bukan sekadar angka panjang kilometer di atas peta. Ia adalah penghubung antara harapan petani dengan pasar, antara pasien dengan rumah sakit, dan antara anak sekolah dengan masa depannya.

Mari kita jadikan Hari Jalan ini sebagai panggilan untuk bersama-sama menjaga infrastruktur yang ada. Pemerintah bertugas membangun dengan kualitas tinggi dan merespons cepat kerusakan, sementara masyarakat berperan dalam pengawasan dan penjagaan. Hanya dengan jalan yang mantap, Maluku Utara dapat melaju kencang menuju pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan swasembada pangan yang berkelanjutan. 

Dalam momentum Hari Jalan ini, harapan besar tertumpu pada kepemimpinan Navy Anugerah Umasangadji, S.T., M.T., selaku Kepala BPJN Maluku Utara yang diharapkan mampu menjadi nakhoda pembangunan infrastruktur jalan nasional dengan visi transformatif dan berorientasi pada keberlanjutan. Peningkatan standar kualitas konstruksi menjadi prioritas utama, di mana setiap proyek jalan dan jembatan tidak sekadar terselesaikan secara administratif, melainkan memiliki ketahanan struktural yang mumpuni menghadapi dinamika cuaca tropis ekstrem sebagai wujud komitmen terhadap investasi jangka panjang. 

Responsivitas institusional dalam menanggapi aspirasi dan keluhan masyarakat terkait kerusakan jalan yang menghambat distribusi logistik serta aksesibilitas layanan kesehatan perlu terus ditingkatkan melalui mekanisme komunikasi publik yang adaptif dan solutif. Inovasi teknologi e-monitoring diharapkan dapat dioptimalkan sebagai instrumen transparansi dan akuntabilitas, memastikan pengawasan ketat terhadap pelaksanaan proyek agar alokasi anggaran APBN terkonversi menjadi output infrastruktur berkualitas tinggi tanpa celah penyimpangan. 

Lebih dari itu, kolaborasi humanis dan sinergis dengan Pemerintah Daerah mesti diperkuat sebagai fondasi dalam menerjemahkan aspirasi masyarakat kepulauan menjadi realisasi pembangunan yang inklusif, merata, dan menyentuh kebutuhan riil rakyat di pelosok Maluku Utara.(*)
×
Berita Terbaru Update