![]() |
Menurutnya, keberadaan rumah sakit pengampu memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan layanan kesehatan di daerah. Pendampingan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada pelayanan medis, tetapi juga mencakup penguatan tata kelola, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta kesiapan fasilitas dan peralatan kesehatan.
"Kami berharap kegiatan ini menjadi ruang belajar yang nyata. Semua masukan yang diberikan harus diterjemahkan menjadi langkah-langkah perbaikan yang terukur dan berkelanjutan, sehingga kualitas layanan kanker di Maluku Utara semakin baik dari waktu ke waktu," katanya.
Direktur RSUD dr. H. Chasan Boesoirie, dr. Rosita Alkatiri, M.Kes., menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya meningkatkan mutu pelayanan melalui kerja sama dan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk rumah sakit pengampu.
Ia menyampaikan bahwa seluruh hasil evaluasi dan rekomendasi yang diperoleh selama pendampingan akan dijadikan dasar dalam penyusunan langkah-langkah perbaikan yang dapat segera diterapkan.
"Kami memandang pendampingan ini sebagai kesempatan yang sangat berharga. Setiap masukan yang diberikan akan kami tindak lanjuti menjadi program kerja yang konkret demi menghadirkan pelayanan kanker yang semakin berkualitas dan mudah diakses masyarakat Maluku Utara," ujarnya.
Sementara itu, perwakilan tim pengampu dari RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado, Ns. Jeavery Sonli Bawotong, S.Kep., SKM., M.Kes., menjelaskan bahwa program pengampuan merupakan bagian dari strategi nasional untuk memperkuat sistem rujukan pelayanan kesehatan di Indonesia.
Menurutnya, peran rumah sakit pengampu tidak hanya melakukan penilaian, tetapi juga mendampingi dan berbagi pengalaman agar rumah sakit daerah mampu berkembang secara mandiri dalam memberikan pelayanan kanker yang komprehensif.
"Kami datang bukan semata-mata untuk menilai. Kami ingin melihat perkembangan yang telah dicapai, mengidentifikasi potensi yang dimiliki, sekaligus bersama-sama mencari solusi terhadap aspek yang masih perlu diperkuat," katanya.
Evaluasi yang dilakukan meliputi berbagai aspek penting, mulai dari regulasi dan tata kelola organisasi, kompetensi tenaga kesehatan, ketersediaan alat medis, sistem rujukan pasien, hingga penerapan standar keselamatan pasien.
Jeavery menilai, keberhasilan penguatan layanan kanker di daerah akan berdampak langsung pada peningkatan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat serta mengurangi ketergantungan terhadap rujukan ke luar provinsi.
"Ketika layanan kanker dapat diperkuat di daerah, masyarakat akan memperoleh akses pengobatan yang lebih cepat, lebih dekat, dan lebih terjangkau. Itulah tujuan utama dari program pengampuan ini," ujarnya.
Usai sesi evaluasi dan diskusi, tim pengampu meninjau sejumlah unit pelayanan di RSUD Chasan Boesoirie, di antaranya poliklinik, instalasi patologi klinik, ruang perawatan anak, laboratorium patologi anatomi, ruang kemoterapi, hingga instalasi radiologi guna melihat secara langsung kesiapan layanan yang tersedia.
Melalui program penguatan yang berlangsung secara berkesinambungan ini, RSUD dr. H. Chasan Boesoirie diharapkan semakin siap menjadi pusat layanan kanker regional yang andal di kawasan timur Indonesia. Dengan demikian, masyarakat Maluku Utara dapat memperoleh layanan kesehatan berkualitas di daerah sendiri tanpa harus menghadapi beban perjalanan dan biaya tambahan untuk berobat ke luar provinsi.(Red)

