Iklan

Notification

×

Iklan

Iklan

Bukan Sekadar Pengabdian, KKSD UMMU Tinggalkan Persaudaraan yang Mengharukan

Sabtu | Juni 27, 2026 WIB Last Updated 2026-06-27T08:59:22Z
iklan
TIDORE, DETIKMALUT.com - Program Kuliah Kerja Sosial Dakwah (KKSD) Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) Tahun 2026 resmi berakhir, Sabtu (27/6/2026). Penarikan mahasiswa dari enam desa di Kecamatan Oba dan Oba Tengah, Kota Tidore Kepulauan, bukan sekadar menandai berakhirnya pengabdian selama 40 hari, tetapi juga meninggalkan kisah persaudaraan yang begitu erat antara mahasiswa dan masyarakat.

Sebanyak 127 mahasiswa yang diterjunkan sejak 18 Mei 2026 tersebar di Desa Talasi, Todapa, Tului, Bale, dan Woda di Kecamatan Oba, serta Desa Akedotilou di Kecamatan Oba Tengah. Di setiap desa, sekitar 20 mahasiswa menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat sebagai implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Selama berada di lokasi pengabdian, mahasiswa melaksanakan beragam kegiatan di bidang keagamaan, kesehatan, pendidikan, sosial kemasyarakatan, hingga penguatan tata kelola pemerintahan desa. Program tersebut meliputi bimbingan membaca Al-Qur'an, penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), sosialisasi bahaya narkoba, bimbingan konseling, edukasi pentingnya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, literasi pertambangan, membantu pemerintah desa melakukan pemetaan wilayah dan administrasi desa, hingga pembuatan papan nama di sejumlah titik.

Mahasiswa juga aktif menggelar kerja bakti membersihkan lingkungan bersama masyarakat, pentas seni tingkat desa, turnamen olahraga, pertandingan bola kaki, olah pikir domino, serta berbagai kegiatan lain yang melibatkan masyarakat sebagai upaya mempererat kebersamaan.

Ketua Pengelola KKSD UMMU, Suryadi, mengatakan keberhasilan pelaksanaan KKSD merupakan hasil kolaborasi antara universitas, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan seluruh masyarakat yang telah menerima mahasiswa dengan penuh kehangatan.

"Atas nama Universitas Muhammadiyah Maluku Utara dan secara pribadi, saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Kecamatan Oba dan Oba Tengah, seluruh kepala desa, perangkat desa, tokoh masyarakat, serta seluruh warga yang telah menerima mahasiswa kami dengan sangat baik. Dukungan dan kebersamaan yang diberikan menjadi bagian penting dari keberhasilan pelaksanaan KKSD tahun ini," ujarnya.

Ucapan terima kasih secara khusus juga disampaikan kepada para mama piara dan papa piara yang selama lebih dari satu bulan telah merawat dan mendampingi mahasiswa layaknya anak sendiri.

"Mahasiswa datang untuk belajar mengabdi, tetapi mereka pulang dengan membawa keluarga baru. Kebaikan, perhatian, dan kasih sayang masyarakat akan menjadi kenangan yang tidak pernah dilupakan oleh seluruh peserta KKSD," kata Suryadi.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat apabila selama pelaksanaan KKSD terdapat sikap, ucapan maupun tindakan mahasiswa yang kurang berkenan.

"Kami menyadari mahasiswa masih dalam proses belajar. Apabila selama berada di desa terdapat kekurangan ataupun kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja, kami atas nama Universitas Muhammadiyah Maluku Utara memohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga silaturahmi yang telah terjalin tetap terjaga dan menjadi awal kerja sama yang lebih baik pada masa mendatang," ucapnya.

Apresiasi terhadap pelaksanaan KKSD juga datang dari pemerintah desa.

Kepala Desa Tului, Rusli Kubais, mengatakan kehadiran mahasiswa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui berbagai program yang dijalankan selama berada di desa.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Maluku Utara yang telah mempercayakan Desa Tului sebagai lokasi KKSD. Kehadiran mahasiswa membawa semangat baru dan kami berharap kerja sama seperti ini terus berlanjut," katanya.

Hal senada disampaikan Kepala Desa Woda, Umar Syarif. Ia berharap Desa Woda kembali menjadi lokasi pelaksanaan KKSD pada tahun-tahun mendatang karena masyarakat merasakan manfaat dari berbagai program mahasiswa.

Momen penarikan mahasiswa menjadi bagian paling mengharukan dari seluruh rangkaian KKSD tahun ini. Tangis, pelukan, dan doa mengiringi perpisahan mahasiswa dengan masyarakat yang selama 40 hari hidup bersama sebagai satu keluarga.
Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah mama piara dan papa piara dari Desa Woda maupun desa lainnya rela menempuh perjalanan jauh menggunakan kendaraan pribadi untuk mengantar mahasiswa hingga ke Pelabuhan Feri. Mereka tetap bertahan di pelabuhan hingga kapal mulai meninggalkan dermaga.

Di Desa Akedotilou, Sekretaris Desa bersama para ketua pemuda dan perangkat desa bahkan mengantar mahasiswa hingga masuk ke dalam kapal feri sebagai bentuk penghormatan dan rasa kekeluargaan yang telah terjalin selama pelaksanaan KKSD.

Ada pula pemandangan yang menarik perhatian. Saat pertama kali tiba di desa, hampir seluruh mahasiswa hanya membawa koper dan tas berisi kebutuhan pribadi. Namun ketika kembali, sebagian besar koper mereka justru penuh bahkan melebihi kapasitas.

Tambahan barang bawaan itu bukan hasil berbelanja, melainkan buah tangan dari masyarakat. Berbagai hasil kebun, makanan khas desa, hingga beragam kenang-kenangan diberikan sebagai tanda kasih dan ungkapan terima kasih kepada mahasiswa yang telah mengabdikan diri selama lebih dari satu bulan.
Suasana haru semakin terasa ketika satu per satu mahasiswa berpamitan dengan masyarakat yang selama 40 hari telah menjadi keluarga mereka. Pelukan erat, isak tangis, dan doa mengiringi langkah mahasiswa menuju pelabuhan.

Salah seorang mahasiswa peserta KKSD UMMU, Falio, tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Dengan suara bergetar, ia mengaku tidak menyangka akan mendapat sambutan dan kasih sayang sebesar itu dari masyarakat.

"Kami datang sebagai mahasiswa untuk belajar mengabdi. Tapi kami pulang dengan membawa keluarga baru. Yang baik kepada kami bukan hanya mama piara dan papa piara, tetapi seluruh masyarakat. Mereka menerima kami dengan tulus dan memperlakukan kami seperti anak sendiri. Kebaikan seperti ini akan selalu kami kenang," ungkap Falio.

Di tengah suasana perpisahan, para ibu memeluk mahasiswa sambil memanjatkan doa agar mereka diberikan kemudahan menyelesaikan pendidikan, segera diwisuda, serta menjadi orang-orang yang sukses.

Salah seorang mama piara yang mengantar mahasiswa ke pelabuhan pun berpesan agar tali silaturahmi tidak pernah terputus.

"Kalau sudah ada waktu, jangan lupa kembali lagi ke sini. Rumah ini tetap rumah kalian," ucapnya sambil memeluk mahasiswanya.

Kalimat sederhana itu seolah mewakili perasaan masyarakat di enam desa lokasi KKSD. Mahasiswa tidak lagi dipandang sebagai tamu yang datang menjalankan program kampus, melainkan telah menjadi anak dan bagian dari keluarga mereka.

Perpisahan itu menjadi penutup perjalanan pengabdian selama 40 hari. Sebuah perjalanan yang tidak hanya melahirkan berbagai program bagi masyarakat, tetapi juga menumbuhkan ikatan persaudaraan yang sulit dipisahkan oleh jarak dan waktu. Ketika kapal perlahan meninggalkan dermaga, lambaian tangan, doa, dan air mata menjadi saksi bahwa KKSD UMMU Tahun 2026 telah meninggalkan jejak, bukan hanya di desa-desa tempat mahasiswa mengabdi, tetapi juga di hati setiap orang yang pernah hidup bersama mereka.(Id)
×
Berita Terbaru Update