Iklan

Notification

×

Iklan

Iklan

IRONI MANUSIA DIGITAL

Sabtu | Mei 30, 2026 WIB Last Updated 2026-05-30T01:43:28Z
iklan
 
Oleh: Herman Oesman Dosen Sosiologi FISIP UMMU

“...mengharapkan lebih banyak dari teknologi dan lebih sedikit dari sesama manusia...” 
(Sherry Turkle, 2011 : xii)

MELALUI BUKUNYA Alone Together (2011), Sherry Turkle mengkritik kondisi manusia di era digital. Karya Turkle ini menjadi salah satu karya penting  untuk memahami kehidupan manusia era digital. Buku ini membahas paradoks masyarakat modern. Di mana manusia makin terhubung melalui teknologi, tetapi justru semakin kesepian secara emosional. Judul Alone Together sendiri menggambarkan kondisi ironis itu manusia hidup bersama melalui jaringan digital, namun secara psikologis mengalami keterasingan.

Turkle, seorang profesor di Massachusetts Institute of Technology (MIT), sejak lama meneliti hubungan manusia dengan teknologi. Melalui buku ini, ia memperlihatkan bagaimana telepon pintar, media sosial, internet, dan robot sosial tidak lagi sekadar alat bantu, tetapi telah mengubah cara manusia membangun relasi, memahami diri, dan menjalani kehidupan sosial. Turkle menyatakan bahwa teknologi modern membuat manusia “mengharapkan lebih banyak dari teknologi dan lebih sedikit dari sesama manusia” (Turkle, 2011 : xii). Pernyataan tersebut menjadi inti kritiknya terhadap masyarakat digital kontemporer.

Salah satu gagasan utama Turkle adalah perubahan cara manusia membangun identitas sosial. Media sosial menghadirkan ruang baru bagi manusia untuk mengonstruksi citra diri secara selektif. Orang memilih foto terbaik, kata-kata terbaik, dan sisi kehidupan yang ingin ditampilkan kepada publik. Identitas digital menjadi semacam panggung pertunjukan sosial. Menurut Turkle, manusia modern mulai “mengedit” kehidupannya demi mendapatkan pengakuan sosial di dunia maya (Turkle, 2011 : 179–181).

Fenomena ini melahirkan budaya always on, yakni situasi ketika manusia merasa harus selalu terkoneksi dengan perangkat digital. Banyak orang merasa cemas ketika jauh dari telepon genggam atau terlambat membalas pesan. Turkle melihat kondisi tersebut sebagai tanda munculnya ketergantungan emosional terhadap teknologi. Ia menulis bahwa manusia mulai takut terhadap kesunyian karena selalu membutuhkan distraksi digital (Turkle, 2011 : 13–16). Padahal, kemampuan untuk menyendiri merupakan bagian penting dari refleksi diri dan pembentukan empati sosial.

Kritik Turkle menjadi sangat relevan pada kehidupan masyarakat hari ini. Di restoran, ruang rapat, kampus, bahkan ruang keluarga, banyak orang hadir secara fisik tetapi sibuk dengan layar masing-masing. Percakapan tatap muka terganggu oleh notifikasi dan media sosial. Turkle menyebut situasi ini sebagai “being alone together”, yaitu bersama secara fisik namun terpisah secara emosional (Turkle, 2011 : 155). 

Kehadiran digital perlahan menggantikan kehadiran manusia yang nyata.
Media sosial juga mengubah cara manusia memaknai hubungan sosial. Persahabatan dan relasi personal sering kali diukur berdasarkan jumlah pengikut, likes, komentar, atau interaksi digital lainnya. Kedekatan sosial berubah menjadi statistik dan angka. Dalam situasi seperti itu, hubungan sosial menjadi dangkal karena lebih berorientasi pada pencitraan dibanding kedalaman emosional. Turkle menjelaskan bahwa banyak orang merasa lebih nyaman berkomunikasi melalui pesan singkat dibanding percakapan langsung karena komunikasi digital dapat dikontrol dan diedit terlebih dahulu (Turkle, 2011 : 186–189).

Selain membahas media sosial, Turkle juga menyoroti hubungan manusia dengan robot dan kecerdasan buatan (AI). Ia mengamati perkembangan robot sosial yang dirancang untuk menjadi teman, perawat, atau pendamping emosional manusia. Pada beberapa kasus, anak-anak dan lansia mulai membangun keterikatan emosional dengan mesin. Menurut Turkle, masalah utama bukan pada keberadaan robot itu sendiri, melainkan ketika manusia mulai menerima “simulasi perhatian” sebagai pengganti hubungan manusia yang autentik (Turkle, 2011 : 5–7).

Turkle memberi contoh, bagaimana robot pendamping lansia mampu memberikan respons seolah-olah memiliki empati. Namun sebenarnya robot tidak memahami emosi manusia secara nyata. Robot hanya memproses data dan menjalankan program. Meski demikian, banyak manusia merasa nyaman karena hubungan dengan mesin dianggap lebih sederhana dibanding hubungan sosial yang kompleks dan penuh konflik. Dalam pandangan Turkle, kondisi ini menunjukkan penurunan standar relasi sosial manusia modern (Turkle, 2011 : 289–295).
Secara sosiologi, pemikiran Turkle memperlihatkan transformasi besar masyarakat digital. Teknologi telah mengubah ruang publik, pola komunikasi, bahkan konsep kehadiran sosial. Jika dahulu kedekatan dibangun melalui pengalaman bersama dan tatap muka, kini banyak hubungan berlangsung melalui layar. Manusia hidup di tengah jaringan komunikasi yang luas, tetapi tidak selalu memiliki kedalaman relasi sosial. Fenomena tersebut memperlihatkan munculnya individualisme digital: manusia terkoneksi secara teknologis, tetapi mengalami keterasingan emosional.

Pandangan Turkle memiliki keterkaitan dengan teori masyarakat jaringan dari Manuel Castells. Tentang hal ini, dijelaskan Castells, masyarakat modern hidup dalam struktur jaringan global berbasis teknologi informasi (Castells, 2010 : 407–409). 
Namun, Turkle melangkah lebih jauh dengan memperlihatkan dampak psikologis dan emosional dari kehidupan jaringan tersebut. Jika Castells fokus pada perubahan struktur sosial, Turkle fokus pada perubahan relasi manusia sehari-hari.

Kritik Turkle juga dapat dibaca melalui perspektif interaksionisme simbolik. Dalam interaksi digital, simbol-simbol seperti emoji, foto profil, jumlah pengikut, dan status media sosial menjadi bagian penting pembentukan identitas. Manusia tidak lagi sekadar berbicara, tetapi terus memproduksi citra diri digital. Akibatnya, hubungan sosial sering kehilangan spontanitas dan kejujuran emosional.

Meski kritis terhadap teknologi, Turkle tidak sepenuhnya menolak perkembangan digital. Ia tidak mengajak manusia meninggalkan internet atau telepon pintar. Yang ia dorong adalah penggunaan teknologi yang lebih reflektif dan manusiawi. Dalam karya lanjutannya, Reclaiming Conversation, Turkle menekankan pentingnya merebut kembali percakapan tatap muka sebagai fondasi empati dan kehidupan demokratis (Turkle, 2015 : 3–5).

Pada akhirnya, Alone Together merupakan refleksi penting mengenai kondisi manusia modern. Buku ini mengingatkan bahwa teknologi seharusnya membantu memperkuat hubungan sosial, bukan menggantikannya. 

Secanggih apa pun teknologi berkembang, manusia tetap membutuhkan percakapan nyata, perhatian yang tulus, dan kehadiran emosional sesama manusia. Di tengah dunia yang semakin digital, pesan Turkle menjadi semakin relevan: manusia tidak boleh kehilangan kemanusiaannya sendiri.(*)
×
Berita Terbaru Update