![]() |
TIDORE, DETIKMALUT.com - Rektor Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, Prof. Dr. Ranita Rope, S.P., M.Sc., menghadiri upacara peringatan Hari Jadi Tidore yang berlangsung khidmat di Kedaton Kesultanan Tidore pada Minggu (12/4).
Momentum ini tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga ruang refleksi historis dan kultural atas eksistensi Tidore sebagai salah satu pusat peradaban penting di kawasan timur Indonesia. Pada tahun ini, peringatan Hari Jadi Tidore memasuki usia ke-918, yang semakin menegaskan panjangnya perjalanan sejarah dan peran strategisnya dalam membentuk identitas kawasan Maluku Utara.
Dalam keterangannya, Prof. Ranita Rope menegaskan bahwa peringatan Hari Jadi Tidore mengandung makna kolektif yang sarat akan nilai sejarah, budaya, serta kearifan lokal yang perlu terus dijaga keberlangsungannya.
“Kehadiran kami bukan sekadar memenuhi undangan, tetapi merupakan refleksi terhadap sejarah dan budaya yang patut diapresiasi dan dirawat dengan baik, sehingga nilai-nilai kebaikannya terus terwarisi bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan intelektual dalam menjaga serta menghidupkan kembali memori kolektif masyarakat. Keterlibatan akademisi dinilai penting untuk memastikan bahwa nilai-nilai lokal tidak tergerus oleh arus modernisasi, melainkan justru menjadi fondasi dalam pembangunan berkelanjutan.
Sebagai institusi pendidikan, UMMU memandang bahwa penguatan identitas budaya harus berjalan beriringan dengan pengembangan ilmu pengetahuan. Perguruan tinggi, kata dia, tidak hanya berfungsi sebagai pusat transfer ilmu, tetapi juga sebagai agen transformasi sosial yang berperan aktif dalam pelestarian budaya.
Lebih jauh, ia menilai bahwa kolaborasi antara lembaga pendidikan, pemerintah daerah, dan lembaga adat seperti Kesultanan Tidore perlu terus diperkuat. Sinergi tersebut diyakini mampu melahirkan berbagai program konkret, baik dalam bentuk penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun pengembangan kurikulum berbasis kearifan lokal yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Selain itu, momentum Hari Jadi Tidore juga dinilai sebagai ruang edukasi publik yang efektif, khususnya bagi generasi muda, untuk lebih mengenal akar sejarah dan identitas daerahnya. Dengan pemahaman yang kuat terhadap sejarah, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan kesadaran budaya yang kokoh.
Peringatan Hari Jadi Tidore sendiri menjadi momentum strategis untuk menelusuri kembali jejak panjang sejarah Kesultanan Tidore yang telah memberikan kontribusi signifikan dalam perjalanan bangsa. Selain itu, peringatan ini juga mempertegas komitmen bersama berbagai elemen masyarakat untuk menjaga dan merawat warisan budaya sebagai fondasi pembangunan masa depan.
Dengan semangat kebersamaan dan penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur, peringatan ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga mampu memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya sejarah dan budaya sebagai identitas serta kekuatan bangsa di tengah dinamika zaman.(Red)*


