Oleh: Herman Oesman Dosen Sosiologi FISIP UMMU
“...kepergian Irfan merupakan sebuah kehilangan, tetapi juga pengingat. Pengingat bahwa kerja intelektual tidak pernah sia-sia, selama ia berakar pada realitas sosial dan berpihak pada masyarakat...”
KABAR DUKA itu datang pada malam yang hening. Selasa, 7 April 2026, Irfan Ahmad berpulang, meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga, sahabat, kolega akademik, dan komunitas yang selama ini ia rawat dengan penuh dedikasi. Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang individu, melainkan hilangnya satu suara penting dalam upaya merawat ingatan kolektif, khususnya sejarah lokal Maluku Utara yang kerap terpinggirkan dalam narasi besar historiografi nasional.
Sebagai dosen dan peneliti sejarah di Universitas Khairun (Unkhair), Irfan dikenal sebagai sosok yang ramah, baik, tekun, bersahaja, dan memiliki komitmen intelektual yang kuat. Ia bukan tipe akademisi yang mengejar popularitas melalui publikasi semata, melainkan seorang peneliti lapangan yang percaya bahwa sejarah hidup di tengah masyarakat, dalam cerita-cerita kecil, tradisi lisan, dan praktik keseharian. Dalam banyak kesempatan, ia lebih memilih duduk bersama para teman-teman, tetua kampung, mendengar kisah masa lalu, daripada sekadar mengandalkan arsip kolonial yang acapkali bias perspektif.
Dalam kerangka itu, kiprah Irfan mencerminkan apa yang disebut oleh Paul Thompson (2000) disebut sebagai the voice of the past, yakni upaya menghadirkan kembali suara-suara yang selama ini terabaikan dalam penulisan sejarah. Ia menempatkan sejarah sebagai arena demokratisasi pengetahuan, di mana masyarakat lokal bukan hanya objek, tetapi subjek utama dalam produksi narasi sejarah mereka sendiri.
Di ruang kelas, Irfan merupakan pendidik yang menginspirasi. Ia tidak sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi membangun kesadaran kritis mahasiswa terhadap pentingnya sejarah sebagai alat refleksi sosial. Ia kerap mengingatkan bahwa tanpa pemahaman sejarah, masyarakat akan kehilangan arah dalam menghadapi perubahan zaman. Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Eric Hobsbawm (1997) yang menegaskan bahwa sejarah bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat memahami dirinya di masa kini.
Namun, kiprah Irfan, seorang alumni DMA Muhammadiyah Ternate, tidak berhenti di ruang akademik. Ia juga aktif dalam Komunitas Kota Jakofi, sebuah ruang kultural yang menjadi wadah bagi anak muda, pegiat literasi, dan pecinta sejarah lokal di Ternate. Di komunitas ini, Irfan memainkan peran penting sebagai penggerak diskusi, fasilitator riset, dan mentor bagi generasi muda yang ingin memahami akar sejarah kotanya.
Kehadirannya di komunitas Kota Jakofi menunjukkan bahwa ia memahami pentingnya apa yang disebut sebagai cultural capital, yakni bagaimana pengetahuan dan praktik budaya dapat menjadi sumber kekuatan sosial. Melalui berbagai kegiatan: diskusi sejarah, penelusuran situs, hingga penulisan narasi local, ia turut membangun kesadaran kolektif bahwa sejarah bukan sekadar warisan, tetapi juga sumber daya untuk masa depan.
Lebih dari itu, Irfan merupakan jembatan antara dunia akademik dan masyarakat. Ia mampu menerjemahkan konsep-konsep akademik yang kompleks menjadi bahasa yang mudah dipahami oleh publik. Dalam konteks ini, ia menjalankan apa yang oleh Antonio Gramsci (1971) disebut sebagai peran intelektual organic, seorang intelektual yang tidak terpisah dari masyarakatnya, tetapi justru tumbuh dan berjuang bersama mereka.
Kepergian Irfan mengingatkan kita pada pentingnya merawat tradisi intelektual yang berpihak pada masyarakat. Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi yang kerap menggerus identitas lokal, kerja-kerja seperti yang Irfan lakukan menjadi semakin relevan. Ia telah menunjukkan bahwa sejarah lokal bukan sesuatu yang usang, melainkan fondasi penting dalam membangun identitas dan solidaritas sosial.
Dalam banyak hal, warisan terbesar Irfan bukan hanya tulisan atau penelitian yang ia hasilkan, tetapi juga jejaring sosial dan intelektual yang ia bangun. Mahasiswa-mahasiswanya, rekan-rekan di Unkhair, serta anggota Komunitas Kota Jakofi merupakan saksi hidup dari dedikasi dan ketulusan yang ia berikan. Mereka adalah penerus dari semangat yang ia tanamkan, semangat untuk terus belajar, meneliti, dan merawat ingatan kolektif.
Irfan dari namanya, sudah tergambar karakternya. Irfan (dalam Bahasa Arab) berarti pengetahuan, kebijaksanaan, kesadaran, atau pengenalan. Nama ini berasal dari akar kata 'arafa yang bermakna mengetahui atau menyadari. Secara lebih dalam, terutama dalam konteks spiritual (tasawuf), Irfan kerap dikaitkan dengan pengetahuan intuitif atau "gnosis" (pengenalan mendalam tentang Allah). Dari rentetan makna namanya, Irfan telah menyebarkan dan menabalkan pengetahuan yang dimilikinya.
Sebagaimana diingatkan Maurice Halbwachs (1992), ingatan kolektif tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu hidup dalam relasi sosial. Dalam konteks ini, Irfan telah menjadi bagian dari ingatan kolektif itu sendiri. Ia hidup dalam cerita-cerita yang akan terus dikenang, dalam praktik-praktik kultural yang ia dorong, dan dalam kesadaran sejarah yang ia bangun.
Akhirnya, kepergian Irfan merupakan sebuah kehilangan, tetapi juga pengingat. Pengingat bahwa kerja intelektual tidak pernah sia-sia, selama ia berakar pada realitas sosial dan berpihak pada masyarakat. Ia telah menunaikan perannya dengan baik, sebagai ayah dari anak-anaknya, sebagai dosen, sebagai peneliti, sebagai pegiat komunitas, dan sebagai sahabat-sahabat dari beragam latar sosial.
Selamat jalan, Irfan. Jejakmu mungkin sunyi, tetapi maknanya akan terus bergema dalam ingatan kolektif kita. Engkau telah menanamkan satu tonggak penting, sebagai penjaga ingatan...! _"Allahummaghfir-lahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu"_ (Ya Allah, ampunilah dia, berilah rahmat, sejahtera, dan maafkanlah dia), Aamiin Yaa Rabbal’alamin...!!*


