![]() |
JOGJAKARTA, DETIKMALUT.com - Pemerintah Provinsi Maluku Utara memperkuat arah pembangunan berbasis sumber daya manusia dan riset dengan menjalin kerja sama strategis bersama Universitas Gadjah Mada (UGM). Kolaborasi ini dinilai menjadi langkah penting untuk memastikan pertumbuhan ekonomi daerah diimbangi dengan kesiapan SDM lokal yang berdaya saing.
Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, dan Rektor UGM, Prof. Dr. Ova Emilia, yang berlangsung di Kampus UGM, Yogyakarta, Jumat, 9 Januari 2026. Kerja sama mencakup bidang pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat, sebagai fondasi pembangunan daerah berbasis riset terapan.
Gubernur Sherly Tjoanda menegaskan bahwa Maluku Utara saat ini mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi secara nasional, dengan angka mencapai sekitar 39 persen. Namun, capaian tersebut belum sepenuhnya dirasakan secara merata oleh masyarakat.
“Kita tidak ingin pertumbuhan ekonomi hanya menjadi angka. SDM lokal harus disiapkan agar bisa mengambil peran lebih besar, khususnya di sektor industri,” ujar Sherly.
Ia menjelaskan, kawasan industri di Halmahera Tengah saat ini menyerap sekitar 100 ribu tenaga kerja, namun jumlah pekerja lokal yang terlibat baru sekitar 30 ribu orang. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pemerintah daerah untuk mendorong peningkatan kualitas SDM agar lebih kompetitif.
Kerja sama dengan UGM, lanjut Sherly, diarahkan untuk mendukung agenda hilirisasi nikel serta pengembangan industri baterai kendaraan listrik. Maluku Utara diketahui menyumbang sekitar 50 persen produksi nikel nasional, sementara Indonesia memasok sekitar 40 persen kebutuhan nikel dunia.
“Potensi ini sangat besar. Karena itu, kita ingin membangun ekosistem pendidikan dan riset bersama UGM agar pengelolaan sumber daya alam dilakukan secara berkelanjutan dan memberikan nilai tambah bagi daerah,” katanya.
Selain sektor industri, Sherly juga menyoroti persoalan ketergantungan Maluku Utara terhadap pasokan pangan dari luar daerah yang masih mencapai sekitar 80 persen, terutama untuk memenuhi kebutuhan kawasan industri. Menurutnya, sektor pertanian, perikanan, dan UMKM lokal memiliki peluang besar untuk menjadi pemasok utama.
“Petani dan nelayan lokal harus ikut terlibat agar perputaran ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat Maluku Utara,” ucapnya.
Sementara itu, Rektor UGM Prof. Ova Emilia menyampaikan bahwa UGM telah lama terlibat dalam pembangunan Maluku Utara melalui berbagai program, salah satunya Kuliah Kerja Nyata (KKN). Saat ini, terdapat 18 kelompok mahasiswa UGM yang melaksanakan KKN di sejumlah wilayah, antara lain Obi, Morotai Selatan, Pulau Hiri, dan Pulau Rao.
Ova menilai, kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat merupakan bagian penting dari proses pembelajaran yang membentuk kepekaan sosial serta tanggung jawab sebagai insan terdidik. “Bagi kami, KKN merupakan proses pembelajaran yang membentuk karakter mahasiswa agar memahami persoalan nyata di lapangan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pembelajaran mahasiswa tidak berhenti pada penguasaan teori di ruang kelas. Pengalaman terjun langsung ke masyarakat, khususnya di wilayah kepulauan, menjadi sarana untuk memahami persoalan riil pembangunan. “Mahasiswa belajar memahami persoalan bangsa secara langsung dan berkontribusi sesuai kapasitas keilmuannya,” tuturnya.
Ova juga menegaskan bahwa kerja sama dengan pemerintah daerah sejalan dengan misi UGM yang mengedepankan prinsip merakyat, mandiri, dan berkelanjutan. Program kolaborasi dirancang dengan menyesuaikan kebutuhan daerah, termasuk pengembangan sektor pertanian dan ketahanan pangan. “Kami siap mendukung penguatan agriculture dan penyediaan pangan sesuai kebutuhan pembangunan daerah,” kata Ova.
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, menambahkan bahwa Maluku Utara merupakan salah satu wilayah favorit pelaksanaan KKN mahasiswa UGM. Seleksi mahasiswa dilakukan secara ketat dengan mempertimbangkan kesiapan mental dan kompetensi.
Selain KKN, UGM juga telah mengembangkan berbagai riset dan kerja sama inovasi sesuai potensi daerah, termasuk di sektor pertanian, kelautan, dan industri. “Kerja sama ini membuka peluang penguatan riset dan pengabdian yang berdampak langsung bagi masyarakat,” tegas Danang.
Dalam agenda penandatanganan MoU tersebut, Gubernur Maluku Utara turut didampingi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku Utara, Abubakar Abdullah, yang akan menjadi OPD teknis dalam menindaklanjuti implementasi kerja sama di lapangan.
Melalui kolaborasi ini, Pemerintah Provinsi Maluku Utara dan UGM berharap dapat membangun fondasi pembangunan yang lebih inklusif, berkelanjutan, serta mampu menyiapkan generasi daerah agar tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku utama dalam transformasi ekonomi Maluku Utara ke depan.(*)

