Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk mengevaluasi kontribusi perusahaan sekaligus memperkuat kolaborasi dalam berbagai sektor pembangunan. Kegiatan dihadiri Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, Wakil Gubernur Sarbin Sehe, Ketua DPRD Maluku Utara Iqbal Ruray, Direktur Utama Harita Nickel Roy Arman Arfandy, jajaran Forkopimda, Rektor Universitas Khairun (Unkhair) Ternate Abdullah W. Jabid, pimpinan OPD serta sejumlah undangan.
Dalam kesempatan itu, Roy Arman Arfandy menyampaikan bahwa keberadaan Harita Nickel di Maluku Utara tidak hanya berorientasi pada aktivitas investasi. Perusahaan, kata dia, berupaya membangun hubungan jangka panjang dengan masyarakat di wilayah operasionalnya, khususnya di Pulau Obi.
Saat ini, Harita Nickel mempekerjakan lebih dari 30.000 orang. Lebih dari 85 persen di antaranya merupakan tenaga kerja lokal, sementara hampir separuhnya berasal dari Maluku Utara dan wilayah sekitarnya.
"Bagi Harita Nickel, Maluku Utara bukan sekadar tempat menjalankan usaha, melainkan rumah tempat kami tumbuh dan belajar. Kontribusi kami berfokus pada lima pilar utama, yakni pengembangan ekonomi, pembangunan infrastruktur, pendidikan, layanan kesehatan, serta pelestarian sosial budaya," ungkap Roy.
Roy juga memaparkan berbagai program yang telah dijalankan perusahaan sebagai bagian dari kontribusi sosial kepada masyarakat. Salah satunya melalui pemberdayaan pemasok lokal untuk memenuhi kebutuhan pangan karyawan, dengan nilai transaksi ekonomi mencapai Rp16,4 miliar pada Mei 2026.
Di sektor permukiman, perusahaan telah membangun kawasan permukiman baru bagi warga Desa Kawasi yang dihuni 239 keluarga, lengkap dengan sentra UMKM. Harita Nickel juga menjalankan program kesehatan seperti layanan puskesmas keliling dan upaya pencegahan stunting.
Dukungan di bidang pendidikan turut dilakukan melalui pemberian beasiswa dan pelatihan vokasional bagi putra-putri daerah melalui Program Pelita.
Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda mengapresiasi kontribusi Harita Nickel yang telah menjadi bagian dari pembangunan Maluku Utara selama 16 tahun, sejak 2010.
Menurut Sherly, hubungan pemerintah dan perusahaan harus terus diarahkan pada kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Salah satu yang menjadi perhatian adalah peningkatan kualitas program Corporate Social Responsibility (CSR), terutama untuk menjawab kebutuhan infrastruktur dasar masyarakat di Pulau Obi.
"Kami menganggap Harita sebagai mitra strategis. Tujuan kita satu, yaitu memastikan pengelolaan sumber daya alam di Maluku Utara bermuara pada peningkatan kualitas hidup dan masa depan yang bermartabat bagi masyarakat, sesuai semangat Marimoi ngone futuru ," tegasnya.
Sherly sebelumnya juga mendorong agar dukungan CSR perusahaan tidak hanya terkonsentrasi pada wilayah Ring 1. Menurutnya, masyarakat Pulau Obi masih membutuhkan dukungan pembangunan jalan lingkar dan jalan tani untuk memperlancar mobilitas warga serta distribusi hasil pertanian.
Temu Sinergi kemudian ditutup dengan sejumlah agenda konkret. Salah satunya penandatanganan prasasti dukungan pembangunan beberapa infrastruktur, yakni Jembatan Rijang, Jembatan Dial, Jembatan Merah Putih Sungai Doko di Desa Gambaru, serta Jembatan Gantung Dodoku Hokiriwo di Desa Bobo, Halmahera Selatan, yang dibangun melalui kerja sama dengan TNI.
Kolaborasi juga diperluas ke sektor pendidikan dan lingkungan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Harita Nickel dan Universitas Khairun. Kerja sama tersebut mencakup bidang pendidikan, sosial kemasyarakatan dan lingkungan hidup.
Dalam kegiatan yang sama, Harita Nickel menyerahkan sejumlah bantuan CSR. Bantuan tersebut berupa truk sampah untuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate dan Halmahera Selatan serta satu unit kapal nelayan berkapasitas 10 GT untuk kelompok nelayan Soligi.
Agenda ditutup dengan wisuda vokasi sekaligus pengukuhan lulusan Program Pelita angkatan III, IV dan V. Program tersebut memberikan pembekalan kewirausahaan berbasis keahlian, di antaranya pengoperasian overhead crane dan teknisi AC.
Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa kemitraan pemerintah dan perusahaan diarahkan tidak hanya pada aktivitas ekonomi, tetapi juga pada penguatan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, lingkungan, pemberdayaan masyarakat dan pelestarian sosial budaya. Sinergi lintas sektor diharapkan terus berkembang agar manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat Maluku Utara.(Id/Red)
